Tim Odontologi Forensik UI Bantu Identifikasi Korban KM Virgo Transport 8
Kabarlintas.com – Universitas Indonesia mengirimkan tim odontologi forensik dari Fakultas Kedokteran Gigi untuk mendukung proses pengenalan identitas korban tragedi KM Virgo Transport 8. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari operasi Disaster Victim Identification atau DVI yang berlangsung di Kalimantan Selatan.
Operasi identifikasi itu dijalankan oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalimantan Selatan bersama Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Banjarmasin. Dalam situasi bencana, proses DVI memiliki peran penting karena membantu memastikan identitas korban melalui pemeriksaan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tim dari FKG UI berfokus pada odontologi forensik, bidang yang memanfaatkan data gigi dan rongga mulut untuk keperluan identifikasi. Data tersebut dapat menjadi penanda penting, terutama ketika identifikasi visual tidak memungkinkan atau perlu diperkuat dengan bukti lain.
Pemeriksaan gigi sebagai identifikasi primer
Penanggung jawab Tim Odontologi Forensik FKG UI, drg. Nurtami, menjelaskan bahwa tim menjalankan pemeriksaan data gigi korban setelah meninggal dunia. Pemeriksaan ini mencakup pencatatan kondisi gigi, dokumentasi, penelusuran ciri khusus, perkiraan usia, serta berbagai karakteristik odontologis lain yang relevan.
“Kami melakukan pemeriksaan gigi geligi temuan post-mortem yang mencakup pencatatan odontogram, dokumentasi, identifikasi ciri khusus, estimasi usia, serta pencatatan karakteristik odontologis lainnya yang dapat mendukung proses identifikasi,” ujar drg. Nurtami.
Odontogram menjadi salah satu elemen penting dalam tahapan tersebut. Catatan ini menggambarkan susunan dan kondisi setiap gigi, termasuk perawatan yang pernah dilakukan, kehilangan gigi, tambalan, bentuk tertentu, maupun ciri lain yang dapat membedakan satu individu dari individu lainnya.
Selain memeriksa temuan post-mortem, tim juga mengumpulkan informasi ante-mortem, yaitu data yang berasal dari masa hidup korban. Informasi itu dapat berbentuk rekam medis kedokteran gigi, hasil radiografi, foto wajah yang memperlihatkan gigi, dan keterangan terkait karakteristik odontologis khusus.
Pengumpulan data ante-mortem melibatkan keluarga atau kerabat korban. Tim juga dapat menelusuri informasi melalui dokter gigi serta fasilitas kesehatan yang pernah memberikan perawatan kepada korban. Kelengkapan data yang tersedia membantu mempercepat proses pencocokan dan meningkatkan kekuatan hasil identifikasi.
Pencocokan data untuk memberi kepastian
Setelah data post-mortem dan ante-mortem terkumpul, para ahli membandingkan keduanya untuk memperoleh kecocokan yang mendukung penetapan identitas. Proses ini dilakukan secara terstruktur bersama metode identifikasi lain, sehingga kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada satu jenis bukti.
Hingga saat ini, 47 jenazah telah berhasil dikenali. Identifikasi dilakukan melalui metode primer, yakni sidik jari dan data gigi, serta metode sekunder yang mencakup data medis dan properti korban. Kombinasi berbagai pendekatan diperlukan untuk menghadapi kondisi korban dan ketersediaan data yang berbeda-beda.
Bagi keluarga, kepastian identitas merupakan bagian penting dari penanganan bencana. Proses tersebut membantu keluarga memperoleh kejelasan mengenai anggota keluarganya, sekaligus memungkinkan penanganan lanjutan dilakukan dengan dasar informasi yang tepat.
Kolaborasi lintas institusi di Banjarmasin
Tim Odontologi Forensik FKG UI yang bertugas terdiri atas mahasiswa Program Studi Dokter Gigi Spesialis Odontologi Forensik FKG UI. Mereka didampingi Dr. drg. Linda Yuliati, M.H., drg. Miky Raja Manullang, drg. M.A. Majedi, M.H., serta alumni program studi drg. Ferdy Rijaldi, M.H., Sp.OF.
Keberangkatan tim memperoleh dukungan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI melalui Program UI Peduli. Di lapangan, mereka bekerja bersama RS Bhayangkara Tk. III Banjarmasin, Tim DVI Biddokkes Polda Kalimantan Selatan, Bidang Odontologi Kepolisian atau Bidodontopol, serta Pusat Identifikasi Polri atau Pusident.
Operasi juga melibatkan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat, Ikatan Alumni FKG ULM, RSGM Gusti Hasan Aman, dan dokter spesialis forensik medikolegal atau Sp.FM. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa identifikasi korban bencana membutuhkan koordinasi lintas keahlian, mulai dari pemeriksaan medis hingga pencatatan identitas.
Dekan FKG UI, Prof. drg. Lisa Rinanda Amir, menilai partisipasi sivitas akademika dalam operasi DVI sebagai penerapan nyata keilmuan kedokteran gigi untuk kepentingan kemanusiaan.
“Keterlibatan FKG UI dalam operasi DVI ini menjadi bentuk nyata kontribusi keilmuan kedokteran gigi untuk mendukung proses identifikasi korban secara ilmiah dan membantu keluarga memperoleh kepastian,” ujar Prof. Lisa.
Keterlibatan tim UI juga mencerminkan penggunaan kompetensi odontologi forensik dalam penanganan kebencanaan. Dengan dukungan kepolisian, rumah sakit, dan tenaga forensik, proses identifikasi dapat dijalankan secara terpadu serta berorientasi pada ketelitian ilmiah dan kebutuhan keluarga korban.
UI menyatakan komitmennya untuk terus menerapkan keahlian odontologi forensik pada situasi bencana. Kerja sama antarinstansi menjadi unsur penting agar setiap tahapan pengenalan korban dapat berjalan dengan baik, dari pengumpulan data hingga penetapan identitas secara resmi.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is UI terjunkan tim odontologi forensik identifikasi?
UI terjunkan tim odontologi forensik identifikasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does UI terjunkan tim odontologi forensik identifikasi matter?
UI terjunkan tim odontologi forensik identifikasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

