Bisnis

Menekraf sinergi dengan media dorong IP ekraf jadi sumber devisa

1000632907

Ekonomi Kreatif dan IP Didorong Menjadi Penggerak Devisa Baru

Kabarlintas.com – Kementerian Ekonomi Kreatif menempatkan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) sebagai salah satu jalur penting untuk memperbesar nilai tambah produk kreatif Indonesia di pasar dunia. Penguatan IP dipandang tidak hanya berkaitan dengan perlindungan karya, tetapi juga peluang memperluas kontribusi ekonomi kreatif terhadap devisa nasional.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) bertema United in Ideas, Empowering The Creative Economy di Jakarta. Forum yang dihadiri 30 pimpinan media nasional itu menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai arah kebijakan ekonomi kreatif dan peran media dalam memperluas pemahaman publik terhadap potensinya.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa karya kreatif Indonesia perlu hadir secara lebih kuat di tingkat internasional. Yang dibawa ke luar negeri bukan semata ekspresi seni dan budaya, melainkan juga hak serta nilai komersial yang melekat pada karya tersebut.

“Tidak hanya seni budayanya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” kata Riefky.

Nilai ekonomi yang terus bertumbuh

Potensi sektor ini tercermin dari data Badan Pusat Statistik yang dikutip Kementerian Ekonomi Kreatif. Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif tercatat mencapai Rp1.757,87 triliun, dengan pertumbuhan 6,86 persen. Angka itu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada level 5,11 persen.

Perbedaan laju pertumbuhan tersebut menunjukkan ruang pengembangan ekonomi kreatif masih terbuka besar. Aktivitas kreatif mencakup karya dan usaha yang nilainya bertumpu pada ide, inovasi, keterampilan, serta kemampuan mengolah identitas budaya menjadi produk dan layanan yang relevan bagi konsumen.

Dalam konteks IP, nilai suatu karya tidak berhenti saat pertama kali diproduksi atau dipublikasikan. Pengelolaan yang baik dapat membuka kesempatan pemanfaatan lebih luas, termasuk melalui lisensi, pengembangan karakter, kolaborasi produk, maupun perluasan ke pasar lain. Karena itu, penguatan IP menjadi bagian penting dari upaya membangun sumber pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Ekonomi kreatif juga berhubungan erat dengan penciptaan kesempatan kerja. Komposisi tenaga kerjanya menunjukkan peran besar kelompok usia muda: milenial mencapai 36,63 persen, sedangkan Gen Z menyumbang 26,40 persen. Keterlibatan dua kelompok ini membuat pengembangan ekraf memiliki arti penting bagi masa depan dunia kerja, khususnya pada bidang yang membutuhkan kreativitas, kemampuan digital, dan adaptasi terhadap perubahan pasar.

WCCE 2026 sebagai panggung diplomasi kreatif

Penguatan posisi Indonesia akan turut diarahkan melalui penyelenggaraan The 5th World Conference on Creative Economy atau WCCE 2026. Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah forum tersebut, yang ditargetkan melahirkan Jakarta Vision on Creative Economy sekaligus memperkuat agenda ekonomi kreatif dalam pembangunan global.

WCCE diproyeksikan menjadi momentum diplomasi dan kolaborasi internasional. Forum ini dapat mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan ekonomi kreatif, dari pemerintah hingga pelaku usaha. Kehadirannya juga memberi kesempatan untuk memperluas percakapan tentang kebijakan, kerja sama lintas negara, serta posisi industri kreatif dalam perekonomian dunia.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan bahwa cakupan pertemuan tersebut tidak terbatas pada sesi pleno. Agenda antarpemerintah atau government-to-government juga akan menjadi bagian dari WCCE 2026, dengan tujuan membawa resolusi yang dibahas ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“WCCE ini adalah untuk membawa resolusi ini ke United Nations, selain itu, ini menjadi ajang di mana stakeholders akan berkumpul bersama dari government hingga bisnis. Terlebih lagi WCCE bukan hanya ada plenary meeting tapi juga ada G2G meeting,” jelas Wamen Ekraf.

Bagi pelaku kreatif, forum internasional semacam ini menegaskan bahwa daya saing tidak hanya bergantung pada kualitas karya. Akses jejaring, pemahaman pasar, perlindungan atas kekayaan intelektual, dan kemampuan membangun kerja sama juga menentukan apakah sebuah gagasan dapat berkembang menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.

Media dan arah pertumbuhan baru

Dukungan terhadap penguatan ekonomi kreatif juga datang dari kalangan media. Wakil Pemimpin Redaksi TV One Wahyu Kustyanto melihat kreativitas sebagai modal yang memiliki peluang pengembangan tanpa batas, berbeda dengan sumber daya alam yang jumlahnya terbatas.

“Kementerian Ekonomi Kreatif ini penting sekali. Ini bisa jadi pilar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Karena kan kalau kreativitas itu kan tidak ada matinya, sementara, kalau sumber daya alam kan ada habisnya. Jadi harusnya memang negara, pemerintah harus serius betul menggarap ekonomi kreatif ini,” ujar Wahyu.

Pernyataan itu menggambarkan pentingnya perhatian yang konsisten terhadap sektor kreatif. Ketika karya dapat dilindungi, dikembangkan, dan dipasarkan secara tepat, IP berpotensi menciptakan manfaat ekonomi yang melampaui satu kali transaksi. Nilai tambahnya dapat tumbuh seiring perluasan pemanfaatan karya dan penguatan ekosistem pendukungnya.

FRAME diharapkan mempertemukan perspektif pemerintah dan media dalam membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai prioritas ekonomi kreatif. Melalui penyebaran informasi yang relevan, publik dapat melihat bahwa IP bukan sekadar istilah hukum, melainkan aset ekonomi yang dapat membantu memperluas pasar global dan mendukung sumber pertumbuhan baru bagi Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Menekraf sinergi dengan media dorong IP ekraf?

Menekraf sinergi dengan media dorong IP ekraf is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menekraf sinergi dengan media dorong IP ekraf matter?

Menekraf sinergi dengan media dorong IP ekraf matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *