Penguatan Sekolah Aman Didorong untuk Mencegah Kekerasan terhadap Anak
Kabarlintas.com – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mendorong satuan pendidikan di berbagai daerah agar memperkuat penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Langkah ini dinilai penting untuk membangun lingkungan belajar yang melindungi anak, mencegah perundungan, serta memastikan setiap bentuk kekerasan dapat ditangani secara cepat dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Dorongan tersebut berkaitan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kebijakan ini menempatkan sekolah bukan hanya sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuh yang menghargai martabat, rasa aman, dan kebutuhan setiap peserta didik.
Asisten Deputi Penyediaan Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kementerian PPPA, Ciput Eka Purwianti, menyampaikan bahwa pelaksanaan kebijakan perlu dilakukan secara nyata dalam kegiatan sekolah sehari-hari. Penanganan kasus perundungan terhadap anak yang berujung pada meninggalnya korban di Pemalang, Jawa Tengah, menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak boleh berhenti pada aturan tertulis.
“Budaya Sekolah Aman dan Nyaman harus diimplementasikan melalui penguatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan, penerapan disiplin positif, pembelajaran yang ramah anak, penguatan komunikasi antara sekolah dan keluarga, serta mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan yang responsif dan berpihak pada kepentingan terbaik anak,” kata Ciput Eka Purwianti di Jakarta, Minggu.
Peran Seluruh Warga Sekolah
Budaya sekolah yang aman tidak dapat dibebankan hanya kepada kepala sekolah atau guru bimbingan dan konseling. Peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, serta pihak lain yang berada di lingkungan satuan pendidikan memiliki peran dalam menciptakan relasi yang sehat dan saling menghormati.
Pencegahan perundungan perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak menertawakan teman yang berbeda, tidak membiarkan ejekan berulang, dan berani meminta bantuan ketika melihat tindakan yang mengarah pada kekerasan. Anak juga perlu mengetahui bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Ucapan yang merendahkan, pengucilan, ancaman, intimidasi, hingga tindakan yang membuat seorang anak merasa takut di sekolah juga perlu mendapat perhatian.
Dalam penerapannya, pendekatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman mencakup disiplin positif dan pembelajaran ramah anak. Disiplin positif menekankan pembinaan perilaku tanpa mempermalukan atau menyakiti anak. Sementara itu, pembelajaran ramah anak mendorong suasana kelas yang memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan berkembang tanpa rasa takut.
Hubungan yang baik antara guru dan peserta didik juga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Ketika anak merasa didengar dan dipercaya, mereka akan lebih mungkin berbicara saat menghadapi masalah. Sekolah perlu membangun jalur komunikasi yang mudah diakses, aman, dan tidak membuat anak khawatir akan mendapat balasan negatif setelah melapor.
Komunikasi dengan Keluarga Perlu Diperkuat
KPPPA menekankan pentingnya hubungan yang kuat antara sekolah dan keluarga. Orang tua atau wali perlu mendapatkan informasi yang cukup mengenai kebijakan perlindungan anak di sekolah, prosedur pelaporan, serta bentuk dukungan yang dapat diberikan saat anak mengalami atau menyaksikan kekerasan.
Kerja sama tersebut membantu sekolah mengenali perubahan perilaku anak yang mungkin memerlukan perhatian. Anak yang mengalami perundungan dapat menunjukkan tanda seperti enggan berangkat sekolah, menarik diri dari pergaulan, merasa cemas, atau mendadak kesulitan berkonsentrasi. Tanda-tanda itu tidak selalu berarti seorang anak menjadi korban kekerasan, tetapi tetap layak dibicarakan dengan tenang dan penuh kepedulian.
Penguatan relasi antarsiswa juga dapat dilakukan melalui kegiatan yang membiasakan kerja sama, empati, dan penyelesaian konflik secara damai. Kampanye #RukunSamaTeman menjadi salah satu upaya untuk mengajak anak membangun pertemanan yang sehat. Pesan utamanya ialah bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengucilkan, mempermalukan, atau menyakiti teman.
Evaluasi dan Respons Cepat Menjadi Kebutuhan
Masih adanya kekerasan di lingkungan pendidikan memperlihatkan bahwa pelaksanaan kebijakan perlu terus dievaluasi dan diperkuat secara merata. Sekolah membutuhkan pemahaman yang sama mengenai cara mencegah, menerima pengaduan, melindungi anak, dan menindaklanjuti persoalan tanpa mengabaikan kebutuhan pemulihan bagi pihak yang terdampak.
Kolaborasi lintas sektor dipandang penting agar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman tidak hanya berjalan di sejumlah sekolah tertentu. Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan layanan perlindungan anak perlu saling terhubung agar respons terhadap kekerasan dapat dilakukan dengan cepat serta disertai pendampingan bagi anak yang mengalami maupun menyaksikan kejadian tersebut.
“Pemahaman setiap unsur warga satuan pendidikan mengenai Budaya Sekolah Aman dan Nyaman perlu terus diperkuat agar implementasinya berjalan secara merata. Kami juga mengimbau masyarakat untuk melaporkan dugaan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak melalui SAPA 129 di nomor telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Kerahasiaan data pelapor dan terlapor akan kami jamin sesuai standar layanan,” kata Ciput Eka Purwianti.
Masyarakat yang mengetahui dugaan kekerasan terhadap perempuan dan anak dapat menggunakan layanan SAPA 129 melalui telepon 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Jaminan kerahasiaan data pelapor dan terlapor menjadi bagian dari standar layanan, sehingga masyarakat diharapkan tidak ragu mencari bantuan ketika menemukan situasi yang membahayakan anak.
Penerapan budaya sekolah yang aman membutuhkan konsistensi, bukan sekadar respons setelah kasus terjadi. Dengan penguatan kapasitas pendidik, keterlibatan keluarga, disiplin yang mendidik, serta mekanisme perlindungan yang jelas, sekolah diharapkan benar-benar menjadi tempat anak belajar, berteman, dan berkembang dengan aman.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Cegah bullying KPPPA dorong implementasi Budaya?
Cegah bullying KPPPA dorong implementasi Budaya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Cegah bullying KPPPA dorong implementasi Budaya matter?
Cegah bullying KPPPA dorong implementasi Budaya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

