Hiburan

Amar Bank dan JAFF bedah tantangan pekerja film belum bankable

Foto-4-Momen-FGD-yang-dilakukan-antara-Amar-Bank-dengan-para-asosiasi-perfilman

Tantangan Bankability Pekerja Film Jadi Sorotan dalam Diskusi Amar Bank dan JAFF Market

Kabarlintas.com – Industri film Indonesia terus berkembang dan menciptakan ruang kerja bagi banyak profesi kreatif. Namun, pertumbuhan tersebut belum otomatis membuat pekerja di dalamnya mudah memperoleh pembiayaan dari perbankan. Pola pendapatan yang tidak selalu bulanan, transaksi produksi yang bercampur dengan kebutuhan pribadi, hingga administrasi keuangan yang belum konsisten menjadi sejumlah hambatan yang perlu dijawab.

Amar Bank bersama JAFF Market mengadakan diskusi untuk memetakan persoalan tersebut sekaligus mencari pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter pekerjaan perfilman. Fokus pembahasannya adalah profil kelayakan perbankan atau bankability, yaitu kemampuan seseorang maupun usaha untuk memenuhi pertimbangan bank saat mengajukan pembiayaan.

Dalam bidang kreatif, kemampuan menghasilkan karya tidak selalu terlihat dalam format keuangan yang lazim digunakan lembaga pembiayaan. Padahal, pekerja film dapat memiliki proyek berkelanjutan, kontrak profesional, serta kekayaan intelektual yang bernilai komersial. Tantangannya terletak pada bagaimana aktivitas ekonomi itu dicatat, dikelola, dan diterjemahkan menjadi rekam jejak finansial yang dapat dipahami sistem perbankan.

Kolaborasi lintas profesi perfilman

Diskusi kelompok terpumpun tersebut melibatkan Indonesian Film Director Club (IFDC), Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR), Indonesian Film Editor (INAFEd), Indonesian Cinematographers Society (ICS), dan Asosiasi Casting Indonesia (ACI). Keterlibatan berbagai organisasi profesi ini penting karena setiap peran dalam produksi film memiliki sistem kerja, kebutuhan modal, dan pola penerimaan yang tidak sama.

“Kami mengapresiasi komitmen Amar Bank untuk memahami karakter kerja industri film secara lebih utuh. Bagi JAFF Market, kolaborasi ini penting karena industri film tidak hanya berbicara tentang karya, tetapi juga tentang bagaimana orang dan usaha di baliknya dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Karya yang kuat juga membutuhkan fondasi finansial yang sehat,” kata Direktur Bisnis JAFF Market Sekarini Seruni.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan industri tidak cukup ditopang oleh kualitas kreatif semata. Film membutuhkan ekosistem yang memungkinkan penulis, sutradara, editor, penata kamera, kru, serta penyedia jasa produksi mengelola penghasilan dan pembiayaan secara lebih sehat.

Pendapatan proyek tidak selalu tercermin setiap bulan

Salah satu temuan utama dalam pembahasan itu berkaitan dengan pola pembayaran yang berbeda pada tiap profesi. Editor dan penulis skenario, misalnya, lazim menerima honor dalam beberapa termin selama proyek dikerjakan. Proses tersebut dapat berlangsung berbulan-bulan, sehingga pemasukan mereka tidak selalu muncul secara rutin dari bulan ke bulan.

Situasi ini membuat penilaian finansial dengan ukuran pendapatan bulanan menjadi kurang memadai. Riwayat penerimaan dalam jangka waktu yang lebih panjang dapat memberikan gambaran yang lebih proporsional tentang kemampuan ekonomi pekerja film. Bagi pelaku kreatif, pengarsipan kontrak, bukti pembayaran, dan catatan proyek menjadi semakin penting untuk menunjukkan kesinambungan aktivitas profesional mereka.

Perbedaan lain terlihat pada casting director dan sinematografer. Dalam sejumlah produksi, mereka dapat menerima dana proyek melalui satu rekening sebelum dana itu dialokasikan kepada kru atau pemeran. Nilai transaksi yang masuk ke rekening pun berpotensi jauh melampaui penghasilan pribadi yang sebenarnya diterima.

Tanpa pemisahan pembukuan yang jelas, transaksi produksi dapat disalahartikan sebagai pendapatan personal. Kondisi itu tidak hanya menyulitkan pembacaan kemampuan finansial, tetapi juga dapat membuat pengelolaan kewajiban pajak menjadi lebih rumit. Pemisahan rekening, dokumentasi pengeluaran, dan pencatatan arus kas proyek dapat membantu memperjelas posisi keuangan individu maupun usaha kreatif.

Nilai karya dan kekayaan intelektual belum sepenuhnya terbaca

Persoalan berikutnya adalah posisi karya sebagai aset ekonomi. Penulis dan sutradara dapat memiliki cerita, naskah, maupun intellectual property atau IP yang memiliki potensi komersial di luar honor proyek. Meski demikian, nilai tersebut belum selalu masuk dalam pertimbangan yang memperkuat profil keuangan atau akses terhadap pendanaan.

Hal ini menunjukkan adanya jarak antara nilai kreatif yang dihasilkan pekerja film dan sistem penilaian aset yang umum dipakai dalam layanan pembiayaan. Karya dapat berkembang menjadi berbagai peluang ekonomi, tetapi proses menuju monetisasi sering kali memerlukan waktu panjang, kolaborasi, serta biaya pengembangan. Karena itu, kebutuhan finansial sektor film tidak selalu bergerak sejalan dengan pola usaha konvensional.

Administrasi juga menjadi bagian penting dari persoalan bankability. Banyak pekerja film masih menjalankan profesinya secara individual. Pencatatan transaksi, pengelolaan kontrak, dokumentasi legal, dan tata kelola finansial belum tentu memakai standar yang seragam. Ketidakteraturan ini dapat membatasi kemampuan bank untuk memahami kebutuhan pembiayaan produktif yang sesungguhnya.

Pendekatan yang lebih adaptif untuk industri kreatif

Amar Bank mengusulkan pendekatan “nurturing” yang menyesuaikan penilaian kelayakan pembiayaan dengan karakter pekerja kreatif di industri film. Pendekatan tersebut menempatkan proses membangun rekam jejak keuangan sebagai bagian dari penguatan kapasitas pelaku industri, bukan semata-mata sebagai syarat yang harus dipenuhi sejak awal.

“Siklus industri film, mulai dari pengembangan hingga monetisasi, sangat berbeda dari sektor usaha konvensional, sehingga arus kasnya tidak bisa disamakan,” ujar Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane.

Melalui teknologi perbankan, bank digital itu melihat peluang untuk membantu pekerja film membangun catatan transaksi dan merapikan pengelolaan keuangannya. Rekam transaksi yang lebih tertib dapat memberikan dasar yang lebih kuat ketika pelaku kreatif membutuhkan pembiayaan untuk kebutuhan produktif.

Topik ini relevan di tengah besarnya peran ekonomi kreatif bagi lapangan kerja nasional. Data Badan Pusat Statistik pada 2025 mencatat sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta pekerja, melampaui target 25,55 juta orang. Angka tersebut memperlihatkan bahwa penguatan akses keuangan bagi pelaku kreatif dapat berdampak pada ekosistem kerja yang luas.

Bank Indonesia juga melihat belanja produksi film memiliki efek pengganda terhadap sektor lain. Kegiatan produksi tidak hanya melibatkan sineas dan pemain, melainkan turut menggerakkan perhotelan, katering, transportasi, UMKM lokal, vendor, hingga berbagai penyedia layanan pendukung.

Pertumbuhan perfilman nasional pada akhirnya membuka kesempatan bagi banyak mata rantai profesi. Agar peluang tersebut dapat bertahan dan berkembang, pekerja film memerlukan fondasi finansial yang lebih tertata, akses pembiayaan yang memahami ritme proyek, serta pengakuan yang lebih baik terhadap nilai ekonomi dari karya kreatif mereka.

Frequently Asked Questions

What is Amar Bank dan JAFF bedah tantangan?

Amar Bank dan JAFF bedah tantangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Amar Bank dan JAFF bedah tantangan matter?

Amar Bank dan JAFF bedah tantangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *