Sabang dijadikan ruang belajar riset kelautan internasional
Kota Sabang di Aceh menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari sejumlah negara dalam Program Lapangan UTM-PORSEC-USK
Sabang Menjadi Laboratorium Terbuka untuk Riset Kelautan Internasional
Kabarlintas.com – Kota Sabang di Aceh menjadi lokasi pembelajaran lapangan bagi peneliti, akademisi, dan mahasiswa dari sejumlah negara dalam Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026. Kegiatan ini mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand untuk mendalami pemanfaatan penginderaan jauh kelautan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Lingkungan laut dan pesisir Sabang dipilih sebagai ruang praktik langsung dalam program bertajuk Capacity Building on Ocean Remote Sensing Towards Climate Resilience. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat menghubungkan pengetahuan mengenai data satelit, teknologi geospasial, dan pengamatan laut dengan kondisi nyata di kawasan kepulauan.
Wakil Wali Kota Sabang Suradji Junus menyambut pelaksanaan program yang berlangsung di The Pade Dive Resort, Sabang, pada Rabu. Ia menilai terpilihnya Sabang sebagai lokasi kegiatan merupakan kehormatan sekaligus kesempatan penting bagi daerah itu untuk terlibat dalam pertukaran pengetahuan kelautan lintas negara.
“Kami sangat senang dan merasa terhormat karena Kota Sabang telah dipilih sebagai salah satu lokasi pelaksanaan Program Lapangan UTM-PORSEC-USK 2026,” kata Suradji Junus.
Laut sebagai Penopang Kehidupan Sabang
Karakter Sabang sebagai kota kepulauan membuat isu kelautan memiliki arti yang sangat dekat dengan kehidupan warganya. Laut dan pesisir bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang yang menopang berbagai aktivitas, mulai dari perikanan dan pariwisata hingga pelestarian keanekaragaman hayati serta pembangunan kota.
Dalam konteks tersebut, kajian kelautan tidak hanya relevan bagi kalangan akademik. Pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan pada perairan dan wilayah pesisir dapat memberi dasar informasi bagi pengelolaan sumber daya secara lebih cermat. Data yang tepat juga penting untuk melihat dinamika lingkungan yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di kawasan pulau.
“Bagi Sabang, laut bukan hanya bagian dari kondisi geografis, tetapi bagian penting dari identitas dan kehidupan sehari-hari. Lingkungan pesisir dan laut kita menopang kehidupan masyarakat dari sektor perikanan, pariwisata, keanekaragaman hayati serta pembangunan kota,” ujar dia.
Program ini menempatkan Pulau Weh sebagai ruang belajar yang mempertemukan teori dan pengalaman lapangan. Peserta tidak hanya membahas konsep penginderaan jauh kelautan, tetapi juga melihat relevansi teknologi tersebut bagi kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Peran Data Satelit dan Teknologi Geospasial
Penginderaan jauh kelautan memanfaatkan informasi dari satelit dan perangkat geospasial untuk membantu membaca kondisi laut serta wilayah pesisir. Dalam kegiatan pembelajaran seperti ini, teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendukung penelitian ilmiah, pemantauan lingkungan, dan pengambilan keputusan yang bertumpu pada data.
Suradji menekankan bahwa pemanfaatan teknologi dapat membantu memahami berbagai perubahan di laut dan pesisir. Namun, teknologi tidak berdiri sendiri. Ketersediaan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan, pengetahuan yang memadai, serta kerja sama antarlembaga dan antarnegara tetap menjadi unsur penting agar pemanfaatannya memberi manfaat nyata.
Ketahanan iklim menjadi salah satu fokus utama dalam program tersebut. Perubahan iklim dan keberlanjutan pengelolaan sumber daya laut merupakan persoalan yang melampaui batas wilayah administratif maupun negara. Karena itu, penguatan kapasitas melalui pendidikan, riset, dan kemitraan dipandang penting untuk membangun respons yang lebih baik.
“Lautan menghubungkan kita semua. Tantangan seperti perubahan iklim serta pengelolaan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan tidak dapat ditangani oleh satu lembaga atau satu negara saja. Dibutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi dan yang tak kalah penting yaitu kemitraan,” kata Suradji Junus.
Kolaborasi Akademik Lintas Negara
Kegiatan UTM-PORSEC-USK 2026 turut dihadiri sejumlah tokoh dan pakar dari lembaga pendidikan serta riset internasional. Mereka antara lain Dr Stefano Vignudelli dari Badan Riset Nasional Italia-CNR, Professor Universiti Teknologi Malaysia yang juga Direktur Kemitraan Global UTM Associate Dr Nurul Hazrina Binti Idris, serta Direktur Departemen Kebumian Badan Riset Nasional Vietnam-VAST Associate Dr Van Duong Nguyen.
Dari Universitas Syiah Kuala hadir Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Dr Haekal Azief Haridhi dan Ketua Program Studi Ilmu Kelautan FKP USK Sofyatuddin Karina. Kegiatan tersebut juga melibatkan instruktur, peneliti, kolega, mitra, serta para peserta program.
Kehadiran peserta dari beragam negara memberi nilai tambah bagi pembelajaran lapangan di Sabang. Pengalaman, pendekatan riset, dan perspektif yang berbeda dapat memperluas pemahaman bersama mengenai tantangan lingkungan laut. Bagi peserta, kondisi pesisir Sabang menjadi contoh nyata untuk melihat bagaimana pengetahuan ilmiah dapat dikaitkan dengan kebutuhan pengelolaan wilayah kepulauan.
UTM-USK-PORSEC Training 2026 merupakan program pelatihan dan peningkatan kapasitas internasional mengenai penginderaan jauh kelautan menuju ketahanan iklim. Program tersebut terwujud melalui kerja sama Universitas Syiah Kuala, Universiti Teknologi Malaysia, dan PORSEC atau Pacific Ocean Remote Sensing Conference, dengan dukungan PBB melalui UN Ocean Decade.
Melalui penyelenggaraan program ini, Sabang tidak hanya menjadi tuan rumah kegiatan akademik, tetapi juga memperlihatkan pentingnya kawasan pesisir sebagai tempat belajar bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Pertemuan antara riset, teknologi, pendidikan, dan kondisi lapangan diharapkan memperkuat perhatian terhadap laut sebagai ruang hidup yang perlu dikelola secara berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sabang dijadikan ruang belajar riset kelautan?
Sabang dijadikan ruang belajar riset kelautan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sabang dijadikan ruang belajar riset kelautan matter?
Sabang dijadikan ruang belajar riset kelautan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
