Skip to content
Jasmine Signal

Portal berita modern dengan ritme baca tenang, bersih, dan fokus.

Signal Radar
All Sport

Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat terus ditingkatkan

Barbara Thomas - kabarlintas.com 4 mins read

Sebuah langkah strategis untuk mengangkat pencak silat ke arena olahraga internasional terbesar di dunia kini memasuki fase baru. Di Jakarta, Sabtu, acara

Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat terus ditingkatkan

Pencak Silat Menuju Panggung Olimpiade: Era Baru Kepengurusan PB IPSI Dibuka dengan Ambisi Besar

Kabarlintas.com – Sebuah langkah strategis untuk mengangkat pencak silat ke arena olahraga internasional terbesar di dunia kini memasuki fase baru. Di Jakarta, Sabtu, acara pengukuhan dan pelantikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) masa bakti 2026–2030 menjadi momentum yang menandai pergeseran arah pembinaan cabang olahraga bela diri asli Nusantara tersebut. Sugiono, yang juga menduduki jabatan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, resmi memimpin organisasi pencak silat nasional untuk empat tahun ke depan, membawa serta mandat yang tidak ringan: menjadikan pencak silat cabang yang diakui dan dipertandingkan dalam ajang Olimpiade.

Visi Menpora: Kualitas Internal sebagai Fondasi Ekspansi Global

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir hadir dalam acara pelantikan tersebut dan menyampaikan pesan tegas bahwa ambisi menduniakan pencak silat tidak dapat dilepaskan dari penguatan kapasitas pembinaan di dalam negeri. Dalam pandangannya, tanpa fondasi teknis dan manajerial yang kokoh di tingkat nasional, upaya promosi internasional akan kehilangan daya dorongnya.

“Upaya membawa pencak silat mendunia harus diawali dengan peningkatan kualitas pembinaan di dalam negeri.”

Pernyataan itu merujuk pada kebutuhan akan standar pelatihan atlet, pengembangan kurikulum teknik, serta penguatan infrastruktur kompetisi yang konsisten. Erick Thohir menekankan bahwa kualitas pembinaan merupakan prasyarat mutlak bagi lahirnya atlet-atlet berkelas dunia yang mampu menjadi duta pencak silat di berbagai benua.

Perbandingan Regional dan Tekanan Kompetitif

Dalam pidatonya, Erick Thohir menarik perhatian hadirin dengan sebuah pertanyaan retoris yang menyoroti posisi Indonesia dalam peta olahraga bela diri Asia. Negara-negara tetangga telah berhasil menempatkan cabang bela diri mereka di panggung Olimpiade: Jepang memiliki karate dan judo, sementara Korea Selatan telah lama mengukuhkan posisi taekwondo sebagai cabang resmi. Pertanyaan yang ia ajukan menggarisbawahi urgensi agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan representasi budaya melalui olahraga.

“Kalau Jepang punya karate dan judo, Korea punya taekwondo, kenapa Indonesia tidak punya?”

Konteks perbandingan ini penting dipahami: pencak silat telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan sejak 2019, namun status tersebut belum otomatis menerjemahkan diri menjadi kehadiran di kompetisi multibahasa terbesar dunia. Jembatan antara pengakuan budaya dan pengakuan olahraga masih memerlukan kerja sistematis dalam hal standarisasi aturan, pengembangan wasit internasional, serta diplomasi olahraga yang berkelanjutan.

Sosialisasi dari Akar: Peran Sekolah sebagai Laboratorium Bibit Atlet

Erick Thohir juga menggarisbawahi dimensi pendidikan dalam strategi jangka panjang pencak silat. Ia menyerukan agar pengenalan dan pengajaran pencak silat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Logikanya sederhana namun berdampak luas: apabila setiap satuan pendidikan menyediakan ruang bagi latihan bela diri ini, maka basis atlet akan melebar secara eksponensial, dan dari situ akan muncul talenta-talenta berprestasi yang siap bersaing di level nasional maupun internasional.

Pendekatan berbasis sekolah ini sejalan dengan pola yang telah terbukti efektif di cabang-cabang olahraga lain, di mana deteksi dini bakat dan pembiasaan gerak sejak usia muda menjadi kunci pembentukan atlet berkelas. Bagi pencak silat, yang memiliki variasi teknik sangat kaya dan filosofi gerakan yang mendalam, integrasi ke lingkungan pendidikan juga berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus pembentukan karakter generasi muda.

Komitmen Sugiono dan Estafet Kepemimpinan

Sebagai Ketua Umum PB IPSI yang baru dikukuhkan, Sugiono menyampaikan permohonan dukungan luas dari seluruh pemangku kepentingan untuk merealisasikan target Olimpiade. Ia menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar cabang olahraga, melainkan ekspresi budaya yang tumbuh, lahir, berkembang, dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia.

Sugiono juga menyinggung kontinuitas kepemimpinan organisasi. Kepengurusan yang kini ia pimpin, menurutnya, merupakan kelanjutan dari tongkat estafet yang selama bertahun-tahun diarahkan oleh Prabowo Subianto. Dalam konteks ini, Sugiono mengutip pandangan dasar yang telah menjadi kompas pembinaan pencak silat di bawah bimbingan Prabowo:

“Bapak Presiden Prabowo selama ini membina pencak silat dengan satu pemikiran dasar, bahwa pencak silat sebagai olahraga bela diri yang tumbuh, lahir, berkembang, dan bagian dari budaya bangsa harus dikembangkan.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa arah kebijakan pembinaan pencak silat telah memiliki kerangka filosofis yang mapan dan tidak berubah hanya karena pergantian kepemimpinan. Yang berubah adalah taktik, strategi operasional, dan intensitas pelaksanaan, bukan prinsip dasarnya.

Implikasi dan Jalan ke Depan

Masa bakti 2026–2030 yang kini diemban Sugiono dan jajaran PB IPSI membawa konsekuensi praktis yang signifikan. Dalam empat tahun tersebut, organisasi dituntut menunjukkan kemajuan terukur dalam beberapa domain sekaligus: peningkatan mutu kompetisi nasional, penguatan kerja sama dengan federasi pencak silat di negara-negara lain, diplomasi ke Komite Olimpiade Internasional, serta ekspansi basis atlet melalui program sekolah dan komunitas. Keberhasilan atau kegagalan dalam periode ini akan menentukan apakah pencak silat benar-benar melangkah menuju panggung Olimpiade atau tetap menjadi cabang yang terhormat namun terpinggirkan dari percakapan olahraga global.

Yang jelas, dengan dukungan politik dari kementerian terkait, legitimasi budaya yang telah diakui dunia, serta kepemimpinan baru yang secara eksplisit menyatakan komitmen terhadap ambisi Olimpiade, pencak silat kini berada pada titik di mana retorika harus diterjemahkan menjadi aksi konkret. Pertanyaan yang diajukan Erick Thohir di podium pelantikan itu bukan sekadar retorika—ia adalah mandat yang kini diemban oleh kepengurusan baru PB IPSI untuk dijawab dengan hasil, bukan janji.

Frequently Asked Questions

What is Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat?

Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat matter?

Menpora ingin kualitas pembinaan pencak silat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Gabung diskusi