Penyebab diri bisa mengalami “emotional hangover”
Setelah menghadapi pertengkaran, kabar yang mengejutkan, perayaan besar, atau percakapan yang sangat pribadi, seseorang dapat merasa lelah secara tidak biasa
Emosi yang Menguras Tenaga Dapat Menyisakan Kelelahan
Kabarlintas.com – Setelah menghadapi pertengkaran, kabar yang mengejutkan, perayaan besar, atau percakapan yang sangat pribadi, seseorang dapat merasa lelah secara tidak biasa. Kondisi ini kerap disebut emotional hangover, yakni rasa terkuras yang muncul sesudah emosi intens mereda. Pengalaman tersebut tidak selalu berkaitan dengan peristiwa menyedihkan karena kegembiraan yang sangat besar pun dapat memberi dampak serupa pada tubuh dan pikiran.
Psikolog klinis Tracy King menjelaskan pada Rabu (9/9) bahwa emosi kuat memicu sistem saraf untuk masuk ke keadaan siaga. Tubuh kemudian berusaha menyesuaikan sejumlah respons, termasuk kewaspadaan, denyut jantung, pola bernapas, ketegangan otot, serta fokus perhatian. Proses penyesuaian yang berlangsung selama peristiwa emosional itu membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Ketika situasi telah berakhir, tubuh tidak selalu langsung kembali tenang. Rasa letih dapat muncul karena seseorang telah memakai banyak tenaga untuk menghadapi, menahan, mengekspresikan, dan memahami emosi yang sedang dialami. Kondisi ini dapat terasa seperti kehabisan daya, sulit berkonsentrasi, ingin menyendiri, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Otak masih bekerja setelah kejadian selesai
Salah satu alasan kelelahan emosional dapat bertahan adalah kecenderungan otak melanjutkan pemrosesan pengalaman. Seseorang mungkin terus mengingat bagian-bagian percakapan, menafsirkan ekspresi orang lain, atau membayangkan kembali respons yang seharusnya diberikan. Upaya memahami makna sebuah kejadian bagi diri sendiri maupun orang lain dapat membuat pikiran tetap aktif setelah situasinya berlalu.
“Otak kita juga dapat terus memproses peristiwa setelah peristiwa itu berakhir dengan memutar ulang percakapan dan menafsirkan reaksi orang lain untuk mencoba memahami apa arti pengalaman itu bagi kita dan orang lain,” kata King.
Rasa lelah ini bisa semakin kuat apabila peristiwa emosional terjadi bersamaan dengan kebutuhan fisik yang terabaikan. Kurang tidur, konsumsi alkohol, makan yang tidak memadai, atau berada di lingkungan yang bising dalam waktu lama dapat mengurangi cadangan energi. Dalam keadaan tersebut, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mengatur diri sambil tetap menghadapi tekanan emosional.
Menata emosi juga membutuhkan usaha
Jennifer Veilleux, profesor ilmu psikologi di Universitas Arkansas, menambahkan bahwa emosi yang sering muncul atau terasa sangat intens dapat memberi dampak lebih besar. Dalam percakapan sulit, misalnya, seseorang dapat menangis atau meninggikan suara. Namun pada saat yang sama, ia mungkin tetap berusaha mendengarkan lawan bicara dan mengendalikan reaksi agar komunikasi tidak semakin memburuk.
Dua tuntutan yang berjalan bersamaan—merasakan emosi dan berusaha mengelolanya—memerlukan kerja mental. Karena itu, kelelahan setelah konflik atau situasi penuh tekanan bukan semata-mata tanda kelemahan. Hal tersebut dapat menjadi bagian dari respons manusia ketika menghadapi pengalaman yang menuntut perhatian, pengendalian diri, dan energi besar.
“Semua itu membutuhkan usaha, yang berarti bahwa memiliki emosi dan mencoba mengelolanya menghabiskan energi,” ujarnya.
Emosi positif juga tidak selalu ringan bagi sistem tubuh. Kegembiraan, antusiasme, rasa haru, atau semangat yang sangat tinggi dapat mengaktifkan sistem saraf dengan cara yang serupa dengan emosi negatif berintensitas besar. Seusai pesta, pencapaian penting, reuni, atau perayaan yang sangat dinantikan, seseorang tetap mungkin merasakan letih dan membutuhkan ketenangan.
Pemahaman ini penting agar seseorang tidak terburu-buru menilai dirinya aneh saat suasana hati berubah setelah peristiwa menggembirakan. Kelelahan pascaemosi dapat menjadi isyarat bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan pemulihan, bukan bukti bahwa pengalaman bahagia itu kurang bermakna.
Memberi ruang bagi emosi yang lebih kecil
Veilleux menyampaikan bahwa membiasakan diri mengungkapkan emosi pada tingkat yang lebih rendah dapat membantu mencegah penumpukan. Membagikan perasaan yang nyata, tetapi belum mencapai puncak intensitasnya, dapat membuat emosi lebih mudah diproses. Langkah ini dapat dilakukan melalui percakapan yang aman, menuliskan perasaan, atau mengakui pada diri sendiri bahwa ada hal yang sedang mengganggu atau membahagiakan.
“Ketika kita mengizinkan dan berbagi emosi tingkat rendah, emosi tersebut tidak akan menjadi sebesar itu. Sama seperti minum satu gelas tidak menyebabkan mabuk bagi kebanyakan orang, begitu pula berbagi emosi yang nyata tetapi kurang intens,” kata Veilleux.
Perawatan diri sebelum dan sesudah peristiwa yang diperkirakan menguras emosi juga dapat membantu. Sebelum menghadiri agenda penting atau menghadapi percakapan berat, seseorang dapat berupaya tidur cukup, makan teratur, dan menyediakan aktivitas menyenangkan. Menonton acara favorit, beristirahat sejenak, atau melakukan kegiatan sederhana yang menenangkan dapat menjadi cara untuk menjaga sumber daya emosional.
Setelah emosi memuncak dan mulai turun, kebutuhan dasar tubuh patut menjadi perhatian. Tidur, makan, dan minum dapat membantu mengisi kembali energi. Menunda tuntutan yang tidak mendesak, mengurangi paparan kebisingan, serta memberi waktu tenang bagi diri sendiri juga dapat membuat masa pemulihan terasa lebih ringan.
“Kemudian setelah emosi yang kuat mereda, isi kembali energi anda dengan tidur, makan, dan minum (yaitu, perhatikan tubuh Anda),” kata Veilleux.
Kapan perlu mencari bantuan
Memperlakukan diri dengan penuh kasih saat memproses perasaan merupakan bagian penting dari pemulihan. Semua emosi, termasuk sedih, marah, takut, lega, maupun sangat gembira, adalah pengalaman yang wajar. Seseorang tidak perlu menghukum diri sendiri hanya karena membutuhkan waktu untuk kembali stabil.
Umumnya, emosi yang meluap akan perlahan mereda. Namun, bila kecemasan, kelelahan ringan, atau rasa terbebani terus berlangsung dan mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat. Dukungan tersebut dapat membantu seseorang memahami apa yang sedang terjadi sekaligus menemukan cara yang lebih sesuai untuk merawat kondisi emosionalnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Penyebab diri bisa mengalami emotional hangover?
Penyebab diri bisa mengalami emotional hangover is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Penyebab diri bisa mengalami emotional hangover matter?
Penyebab diri bisa mengalami emotional hangover matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
