Dunia

China dorong inisiatif AI “open source” dalam BRICS

IMG_2597

China Usulkan Kolaborasi AI Sumber Terbuka di Forum BRICS

Kabarlintas.com – Pemerintah China mendorong pembentukan kerja sama kecerdasan buatan berbasis sumber terbuka di antara negara-negara BRICS. Gagasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian proposal yang disampaikan Presiden Xi Jinping pada sesi kedua pleno KTT BRICS ke-18 di New Delhi, India, pada Minggu (13/9).

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan bahwa agenda AI inklusif itu dipadukan dengan usulan kerja sama industri digital serta manufaktur cerdas. China memandang teknologi baru perlu dapat diakses lebih luas oleh negara-negara berkembang agar manfaat pertumbuhan digital tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak.

“China akan menjadi pelopor” dalam pembentukan komunitas AI sumber terbuka di BRICS.

Selain komunitas AI, Beijing juga menyatakan rencana untuk membangun ekosistem komputasi awan digital BRICS. Program pertukaran pemuda di bidang inovasi sains dan teknologi turut diumumkan sebagai langkah konkret untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat sekaligus kapasitas talenta di negara-negara anggota.

Teknologi sebagai agenda pembangunan bersama

Inisiatif sumber terbuka menempatkan AI sebagai salah satu bidang penting dalam kerja sama BRICS. Pendekatan ini pada dasarnya membuka ruang bagi pengembangan teknologi secara lebih kolaboratif, termasuk pertukaran pengetahuan, penguatan kemampuan komputasi, dan pengembangan ekosistem digital di berbagai negara anggota.

Guo mengatakan China berkomitmen membantu negara-negara Global South meningkatkan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi baru. Tujuannya adalah menciptakan peluang pertumbuhan yang lebih setara di tengah cepatnya perkembangan digital, kecerdasan buatan, dan otomasi industri.

Dalam pernyataannya, Xi merangkum perjalanan BRICS selama dua dekade melalui tiga gagasan utama: penguatan kemandirian, solidaritas dalam menghadapi tantangan, serta pencapaian yang memberikan manfaat nyata. Kelompok itu dinilai telah berkembang menjadi wadah kerja sama yang berpengaruh bagi negara-negara berkembang.

“BRICS telah berkembang dengan semangat dan vitalitas yang kuat,” kata Guo saat menjelaskan pandangan Presiden Xi.

Pengembangan AI, industri digital, dan manufaktur cerdas selaras dengan upaya negara-negara BRICS untuk memperkuat pembangunan berbasis inovasi. Bagi negara berkembang, agenda semacam ini juga menyoroti pentingnya peningkatan keterampilan, infrastruktur digital, dan akses terhadap teknologi agar transformasi ekonomi dapat berlangsung lebih merata.

Seruan untuk perdamaian dan tata kelola global

Selain kerja sama teknologi, Xi menekankan peran BRICS dalam mendukung perdamaian, stabilitas, pertukaran antarsivilisasi, serta pembaruan tata kelola global. Ia menyerukan agar kelompok tersebut berada di sisi yang tepat dalam sejarah dan mengambil peran lebih aktif dalam menghadapi tantangan internasional.

China juga menekankan pentingnya supremasi hukum dalam hubungan internasional, semangat multilateralisme, serta pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Dalam kerangka tersebut, negara-negara Global South didorong untuk memperkuat tata kelola keamanan dan mendorong sistem internasional yang lebih adil serta setara.

Pesan tersebut muncul ketika KTT BRICS di New Delhi mengusung empat pilar: ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempatnya ditempatkan sebagai respons terhadap beragam persoalan dunia, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik.

China Siap Memimpin BRICS Tahun Depan

Guo menyatakan China akan mengambil alih keketuaan BRICS pada tahun depan dan menjadi tuan rumah KTT BRICS ke-19. Beijing menyebut akan bekerja dengan seluruh pihak untuk membangun kesepahaman mengenai agenda masa depan kelompok tersebut.

“Kami akan membangun konsensus” untuk menyongsong dekade emas ketiga BRICS, tegas Guo.

Keketuaan BRICS bergilir setiap tahun sesuai urutan huruf dalam akronim kelompok tersebut. Masa jabatan berlangsung dari 1 Januari hingga 31 Desember. Negara pemegang keketuaan dapat menetapkan fokus agenda tahunan, menggelar KTT, serta mengarahkan pertemuan tingkat menteri dan kelompok kerja utama.

KTT di New Delhi dihadiri sejumlah pemimpin negara, termasuk Xi Jinping dari China, Vladimir Putin dari Rusia, Prabowo Subianto dari Indonesia, Masoud Pezeshkian dari Iran, Cyril Ramaphosa dari Afrika Selatan, Abdel Fattah el-Sisi dari Mesir, dan Abiy Ahmed Ali dari Ethiopia. India menjadi tuan rumah melalui Perdana Menteri Narendra Modi.

Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan juga hadir. Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sementara Arab Saudi mengirim Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

BRICS turut memperluas jejaring kerja samanya melalui negara mitra, antara lain Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam. Kelompok ini saat ini mencakup 11 negara dan menjadi salah satu forum penting bagi koordinasi negara-negara Global South dalam isu ekonomi, pembangunan, teknologi, serta tata kelola internasional.

Frequently Asked Questions

What is China dorong inisiatif AI open source?

China dorong inisiatif AI open source is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China dorong inisiatif AI open source matter?

China dorong inisiatif AI open source matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *