Sensor Akustik Dikembangkan untuk Menilai Mutu Biji Kedelai
Kabarlintas.com – Penilaian kualitas biji kedelai berpotensi dilakukan lebih cepat dan terukur melalui teknologi sensor akustik yang dikembangkan akademisi Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat. Sistem ini memanfaatkan gelombang suara yang muncul ketika biji kedelai mengalami benturan untuk mengenali karakteristiknya, terutama perbedaan kadar air.
Inovasi tersebut membuka peluang pemeriksaan komoditas pertanian yang tidak hanya mengandalkan pengamatan manusia. Dalam proses sortasi berskala besar, pemeriksaan manual dapat memakan waktu panjang dan menghasilkan penilaian yang berbeda antarpetugas. Sensor suara menawarkan cara lain untuk merekam respons fisik biji secara lebih konsisten.
Suara benturan menjadi sumber informasi
Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian Unand, Khairil Agustoria, MT, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan dengan mengamati bunyi yang timbul saat kedelai dijatuhkan ke sebuah pelat. Sensor kemudian menangkap respons tersebut untuk dikaitkan dengan kondisi kadar air pada biji.
“Respons akustik yang muncul dari biji kedelai mengalami perubahan seiring dengan perbedaan kadar air. Hal ini menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik biji,” kata Khairil Agustoria di Padang, Sabtu.
Rangkaian teknologi yang diuji mencakup mesin sortasi, mikrokontroler, dan sensor suara. Ketika biji menyentuh pelat, sistem merekam karakter bunyi yang dihasilkan. Hasil pengujian menunjukkan nilai amplitudo suara yang terbaca sensor berubah sejalan dengan perubahan kandungan air biji kedelai.
Temuan ini penting karena kadar air merupakan salah satu karakter yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan hasil pertanian. Informasi yang lebih terukur dapat membantu proses pengelompokan produk, terutama saat jumlah biji yang diperiksa mencapai ribuan hingga jutaan butir.
Mengurangi keterbatasan pemeriksaan manual
Pemeriksaan dengan tenaga manusia tetap memiliki peran, tetapi kapasitasnya terbatas ketika volume bahan meningkat. Selain faktor kecepatan, penilaian visual atau manual dapat dipengaruhi perbedaan pengalaman dan ketelitian pemeriksa. Penggunaan data akustik dapat menjadi pelengkap untuk membuat proses identifikasi lebih objektif.
“Data yang diperoleh dari sensor dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang kondisi hasil pertanian. Jadi, teknologi ini bukan sekadar membuat proses pemeriksaan lebih cepat, tetapi juga membantu menghasilkan penilaian yang lebih objektif,” ujarnya.
Sensor akustik tidak harus bekerja sendiri. Pengembangannya dapat dipadukan dengan kamera untuk mengenali warna serta bentuk biji, alat pengukur kadar air, dan sistem komputer yang mengolah seluruh hasil pengukuran. Kombinasi berbagai sumber data itu dapat memperkaya identifikasi karakteristik produk pertanian sebelum dipisahkan, disimpan, atau dipasarkan.
Pendekatan semacam ini juga menunjukkan bahwa teknologi pertanian bukan semata-mata soal membuat mesin. Nilai utamanya terletak pada kemampuan mengubah gejala fisik yang sulit diamati menjadi data yang dapat dibaca, dibandingkan, dan digunakan dalam pengambilan keputusan.
Relevansi bagi komoditas kedelai nasional
Pengembangan alat pendeteksi mutu kedelai memiliki konteks yang luas bagi Indonesia. Kebutuhan kedelai nasional masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri, sementara produksi domestik belum memenuhi permintaan. Pada periode 2019–2023, porsi impor kedelai berada di rentang 94,64 hingga 97,66 persen.
Sementara itu, produksi dalam negeri pada 2024 hanya mampu memenuhi sekitar 13,5 persen kebutuhan nasional. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan hasil kedelai yang efisien dan bernilai ekonomi. Teknologi pengukuran dapat membantu proses penanganan komoditas dilakukan dengan parameter yang lebih jelas.
Apabila diterapkan secara tepat, sistem ini berpotensi mempercepat pengukuran, pengelompokan, dan pengelolaan hasil pertanian. Produk dapat ditata sesuai karakteristik yang terdeteksi, sehingga proses berikutnya memiliki dasar informasi yang lebih baik. Namun, teknologi itu bukan jawaban tunggal atas persoalan pasokan kedelai nasional; fungsinya lebih dekat sebagai alat pendukung untuk meningkatkan ketelitian dan efisiensi penanganan hasil.
Masih membutuhkan kalibrasi dan pengujian lapangan
Respons suara dari biji kedelai tidak hanya dipengaruhi kandungan air. Ukuran dan massa biji juga dapat memengaruhi bunyi saat terjadi tumbukan. Karena itu, penggunaan sensor akustik membutuhkan tahapan kalibrasi agar hasil pembacaan tidak keliru menafsirkan perbedaan karakter fisik sebagai perubahan kadar air.
Pengembangan lanjutan perlu mencakup pengolahan data, pelatihan algoritma, serta pengujian dalam kondisi nyata. Pengujian lapangan penting karena lingkungan kerja pertanian dapat menghadirkan variasi bahan, ritme sortasi, dan kondisi operasional yang berbeda dari pengujian awal.
Aspek biaya dan kemampuan pengguna juga menjadi pertimbangan utama. Teknologi akan memberi manfaat lebih besar apabila dapat dioperasikan secara efektif oleh petani atau pelaku usaha, dengan kebutuhan perawatan dan keterampilan yang sesuai kondisi pengguna. Dengan pengujian yang matang, sensor akustik dapat menjadi bagian dari langkah menuju pemeriksaan kualitas kedelai yang lebih cepat, konsisten, dan terukur.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai?
Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai matter?
Akademisi Unand temukan pendeteksi kualitas kedelai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

