Lifestyle

Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak bangun kebiasaan digital sehat

IMG-20261010-WA0028

Kabarlintas.com – Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan bahwa pendampingan dari keluarga dan tenaga pendidik penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara bijak, tanpa meninggalkan aktivitas fisik, pergaulan langsung, serta pengembangan minat dan bakat di luar ruang digital.

Ajakan tersebut disampaikan Meutya saat berdialog dengan siswa dalam sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP TUNAS di Tabanan, Bali, Jumat (9/10). Dalam kegiatan itu, ia berbincang dengan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tabanan, sekaligus berinteraksi dengan komunitas pesepeda yang hadir.

Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak di era digital

Menurut Meutya, penggunaan perangkat dan layanan digital perlu diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan membangun relasi secara langsung. Anak juga perlu memperoleh ruang untuk mengikuti kegiatan luar ruangan, termasuk bersepeda, berolahraga bersama teman, serta mengembangkan kemampuan melalui aktivitas positif di komunitas.

“Sekali lagi saya mengajak orang tua dan tenaga pendidik untuk ikut membangun kebiasaan digital yang sehat. Pendampingan perlu berjalan bersama upaya menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar, bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara langsung,” kata Meutya.

Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak bukan berarti menjauhkan mereka sepenuhnya dari teknologi. Ruang digital tetap menawarkan banyak peluang untuk belajar, mencari informasi, berkarya, dan berkomunikasi. Namun, manfaat tersebut perlu disertai pengawasan serta pemahaman yang sesuai dengan usia dan tingkat kesiapan anak.

PP TUNAS melindungi anak dari risiko platform digital

Pemerintah menerbitkan PP TUNAS untuk memberikan pelindungan kepada anak dari risiko penggunaan platform digital yang tidak sesuai dengan usia dan kematangan mereka. Salah satu cakupan aturan tersebut adalah pembatasan akses bagi anak berusia di bawah 16 tahun terhadap platform digital yang memiliki risiko tinggi.

Meutya mengibaratkan aturan itu seperti menunggu anak cukup siap sebelum mengemudikan kendaraan. Bukan berarti anak dilarang selamanya menggunakan teknologi atau media digital, melainkan perlu ada batasan sampai mereka mampu memahami risiko dan menggunakannya dengan lebih aman.

Ia juga mengingatkan siswa untuk waspada saat berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal di internet. Risiko yang perlu dikenali antara lain penipuan, perundungan, serta pendekatan yang dapat mengarah pada eksploitasi anak. Karena itu, anak perlu membiasakan diri bertanya kepada orang tua, guru, atau orang dewasa tepercaya apabila menemukan percakapan, ajakan, maupun konten yang membuat mereka tidak nyaman.

Pendampingan dan pemahaman menjadi bagian penting

Menkomdigi ajak orang tua dampingi anak dengan memberikan penjelasan yang mudah dipahami, bukan sekadar menetapkan larangan. Anak perlu mengetahui alasan di balik batasan usia, aturan penggunaan aplikasi, dan pentingnya menjaga data pribadi. Dengan pemahaman tersebut, anak diharapkan mampu mengenali situasi berisiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika memakai teknologi.

“Perlindungan anak tidak cukup hanya dengan menetapkan batas usia. Anak perlu memahami alasan di balik aturan tersebut agar dapat mengenali risiko dan mengambil keputusan yang lebih aman ketika menggunakan teknologi,” ujar Meutya.

PP TUNAS disusun dengan pendekatan berbasis risiko. Artinya, setiap platform digital memiliki tanggung jawab untuk memenuhi ketentuan pelindungan anak sesuai dengan profil risiko layanan yang disediakan. Peran platform perlu berjalan bersama keterlibatan orang tua dan guru dalam mendampingi penggunaan teknologi sehari-hari.

FAQ kebiasaan digital sehat untuk anak

Bagaimana orang tua mendampingi anak saat menggunakan internet?

Orang tua dapat memulai dengan berdiskusi tentang aplikasi yang digunakan anak, jenis konten yang mereka lihat, serta teman yang berinteraksi dengan mereka secara daring. Pendampingan juga dapat dilakukan dengan menetapkan waktu penggunaan perangkat, mengajak anak beraktivitas di luar rumah, dan menciptakan suasana agar anak nyaman bercerita ketika menghadapi masalah di internet.

Apakah anak harus dilarang memakai media sosial dan gim online?

Penggunaan media sosial dan gim online perlu disesuaikan dengan usia, kesiapan anak, serta tingkat risiko platform. Pendekatan yang ditekankan adalah perlindungan dan pendampingan, agar anak memahami batasan serta mampu menggunakan layanan digital secara lebih bertanggung jawab.

Apa yang harus dilakukan anak jika mendapat pesan mencurigakan?

Anak sebaiknya tidak membalas, tidak membagikan data pribadi, dan segera memberi tahu orang tua, guru, atau orang dewasa tepercaya. Langkah ini membantu mencegah risiko penipuan, perundungan, maupun bentuk kejahatan digital lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *