Sumatera Barat Dorong Literasi AI di Sekolah Lewat Program AI Ready ASEAN
Kabarlintas.com – Di tengah percepatan transformasi digital yang menyentuh hampir seluruh sektor kehidupan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengambil langkah konkret untuk memastikan dunia pendidikan di daerahnya tidak tertinggal. Melalui kerja sama dengan platform edukasi Ruang Guru dan dukungan ASEAN Foundation, pelatihan literasi kecerdasan artifisial (AI) resmi digelar di Padang pada Kamis. Kegiatan ini menyasar kepala sekolah, pendidik, serta siswa tingkat SMA dan SMK di seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut.
Apresiasi Gubernur terhadap Kolaborasi Pendidikan Digital
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah membuka acara dengan menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada pihak Ruang Guru atas komitmen mereka dalam menghadirkan Program AI Ready ASEAN ke wilayah Sumatra Barat. Ia menegaskan bahwa dukungan yang diberikan telah memastikan pelaksanaan kegiatan berjalan secara maksimal.
“Kami menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada yayasan Ruang Guru yang telah berkolaborasi dalam pelaksanaan Program AI Ready ASEAN di Sumatera Barat pada hari ini serta telah memberikan dukungan secara maksimal untuk terlaksananya acara ini.”
Penyelenggaraan pelatihan ini bukan sekadar seremoni. Ia merupakan bagian dari kerangka kerja ASEAN Foundation yang bertujuan membangun kapasitas digital di negara-negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia. Bagi Sumatera Barat, yang selama ini menghadapi tantangan pemerataan akses teknologi di daerah pedalaman dan kepulauan, kehadiran program semacam ini menjadi jembatan antara kebijakan nasional dan kebutuhan riil di ruang kelas.
Peran Kritis Guru di Era Informasi Terbuka
Dalam pidatonya, Mahyeldi menekankan bahwa lanskap pendidikan tidak lagi memadai jika hanya berfokus pada transfer pengetahuan satu arah. Dengan derasnya arus informasi yang dapat diakses siapa pun melalui gawai, tugas guru bergeser menjadi pembimbing berpikir kritis.
“Pendidikan tidak hanya cukup mengajarkan siswa tentang apa yang harus diketahui. Karena begitu terbukanya informasi saat sekarang ini, guru membekali para siswa dengan kemampuan untuk berpikir kritis. Guru juga harus mendorong siswa agar lebih mandiri karena sekarang informasi lebih terbuka dan siswa mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang keliru.”
Pernyataan ini sejalan dengan tren global yang menempatkan literasi digital sebagai kompetensi inti abad ke-21. Di Sumatera Barat, di mana banyak sekolah di daerah pesisir dan pegunungan masih bergantung pada metode pengajaran konvensional, pergeseran paradigma ini menuntut investasi berkelanjutan pada pelatihan pendidik, bukan hanya pengadaan perangkat keras.
Siswa Bukan Sekadar Konsumen Teknologi
Mahyeldi juga menyoroti bahwa persiapan siswa menghadapi era AI tidak boleh berhenti pada kemampuan mencari jawaban secara instan. Ia menegaskan bahwa peserta didik perlu dibiasakan memahami akar persoalan, merumuskan pertanyaan yang tepat, menjelajahi berbagai kemungkinan solusi, serta mempertanggungjawabkan pilihan yang diambil. Berpikir kritis, menurutnya, tetap menjadi fondasi yang tidak boleh dikorbankan demi efisiensi teknologi.
“Kita tidak ingin generasi muda hanya menjadi pengguna teknologi yang diciptakan orang lain. Kita ingin mereka mampu memahami teknologi, memanfaatkan secara produktif dan pada waktunya memberikan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Maka peran guru dan sekolah merupakan suatu hal yang sangat diharapkan.”
Visi ini menempatkan Sumatera Barat bukan sebagai penerima pasif teknologi, melainkan sebagai ekosistem yang berpotensi melahirkan inovasi lokal. Dengan populasi muda yang besar dan potensi sumber daya alam serta budaya yang kaya, provinsi ini memiliki modal sosial untuk mengembangkan aplikasi AI yang relevan dengan konteks lokal—mulai dari pengelolaan pertanian, pelestarian bahasa daerah, hingga pemetaan risiko bencana.
Implikasi Jangka Panjang bagi Sistem Pendidikan Sumbar
Keberhasilan Program AI Ready ASEAN di Sumatera Barat akan bergantung pada keberlanjutan pelatihan, bukan hanya pada satu hari pelaksanaan. Guru yang telah mengikuti sesi perlu mendapatkan pendampingan teknis lanjutan agar integrasi AI ke dalam kurikulum berjalan bertahap dan bertanggung jawab. Sekolah-sekolah di daerah dengan keterbatasan infrastruktur juga memerlukan strategi khusus agar tidak terjadi kesenjangan digital baru di dalam provinsi itu sendiri.
ASEAN Foundation, sebagai lembaga yang memfasilitasi kerja sama lintas negara dalam bidang pendidikan dan pembangunan manusia, melihat literasi AI sebagai prasyarat agar warga ASEAN tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi asing, tetapi juga kontributor aktif dalam pengembangan ekosistem digital kawasan. Sumatera Barat, dengan posisi strategis di pesisir barat Indonesia, menjadi salah satu titik uji penerapan kerangka tersebut di tingkat daerah.
Bagi ribuan siswa SMA dan SMK yang mengikuti pelatihan ini, pesan utamanya jelas: teknologi adalah alat, bukan pengganti nalar. Kemampuan menggunakan AI secara produktif harus berjalan beriringan dengan integritas akademik, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Dengan fondasi itu, Sumatera Barat berharap generasi mudanya tumbuh bukan sebagai operator pasif, melainkan sebagai pencipta solusi yang memahami konteks masyarakatnya sendiri.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pemprov Sumbar dan Ruang Guru latih?
Pemprov Sumbar dan Ruang Guru latih is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pemprov Sumbar dan Ruang Guru latih matter?
Pemprov Sumbar dan Ruang Guru latih matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

