KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21,39% hingga 2031, Hilirisasi Didorong Garap Produk Akhir

Published Oktober 18, 2026 · Updated Oktober 18, 2026 · By Anthony Gonzalez - kabarlintas.com

Foto : Anthony Gonzalez - kabarlintas.com

Permintaan Nikel Dunia Menguat, Indonesia Didorong Percepat Produk Jadi

Kabarlintas.com – Prospek kebutuhan nikel global yang meningkat hingga awal dekade berikutnya memberi ruang besar bagi Indonesia untuk memperluas industri pengolahan bernilai tinggi. Peluangnya tidak hanya berada pada produksi bahan antara, melainkan pada pengembangan barang akhir yang dapat memperkuat aktivitas manufaktur dan rantai pasok nasional.

Shanghai Metals Market (SMM) memperkirakan permintaan nikel dunia akan naik 21,39 persen dari 3.717 kiloton nikel pada 2026 menjadi 4.512 Kt Ni pada 2031. Pertumbuhan ini terutama ditopang kebutuhan industri baterai serta baja nirkarat atau stainless steel.

Bagi Indonesia, proyeksi tersebut menjadi alasan penting untuk memastikan hilirisasi tidak berhenti pada produk setengah jadi. Pengolahan yang semakin mendalam di dalam negeri dipandang dapat membuka keterlibatan lebih besar bagi pemasok lokal, industri pendukung, dan tenaga kerja dalam ekosistem manufaktur.

Nilai Tambah Didorong Berhenti di Dalam Negeri

Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah melihat kenaikan kebutuhan nikel sebagai kesempatan untuk memperkuat fondasi industri nasional. Fokusnya adalah membangun kemampuan memproduksi barang akhir, sehingga manfaat ekonomi dari sumber daya mineral dapat dirasakan lebih luas di dalam negeri.

“Peningkatan permintaan nikel global ini peluang besar bagi Indonesia. Kuncinya, kita harus memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara (intermediate product),” kata Imaduddin.

Produk dengan proses produksi yang lebih kompleks berpotensi menciptakan hubungan antarsektor yang lebih kuat. Ketika tahapan pengolahan, komponen, hingga perakitan berkembang di dalam negeri, kebutuhan atas jasa logistik, peralatan, material pendukung, dan keahlian teknis juga dapat meningkat.

“Semakin kompleks produk yang dihasilkan, semakin besar pula dampak ekonomi yang dirasakan oleh industri dan pemasok lokal di dalam negeri,” jelasnya.

Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau juga menekankan bahwa bagian hilir merupakan area dengan nilai tambah paling besar. Karena itu, peningkatan kapasitas industri perlu disusun sebagai satu rangkaian, dari kegiatan hulu hingga tahap akhir pengolahan.

“Nilai tambah yang lebih tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia,” tegas Rachmat.

Integrasi tersebut penting agar hasil peningkatan permintaan global tidak hanya diterjemahkan menjadi tambahan volume bahan baku atau produk antara. Industri nasional diharapkan mampu mengambil peran yang lebih besar dalam proses pengolahan lanjutan dan produksi barang yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Ekosistem Baterai Mulai Dibangun Terintegrasi

Langkah menuju rantai industri baterai kendaraan listrik telah dijalankan oleh Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) dan Indonesia Battery Corporation (IBC). IBC bekerja bersama konsorsium CATL–Brunp–Lygend melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) dalam pengembangan fasilitas pabrik baterai di Karawang.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas awal 6,9 GWh dan direncanakan berkembang hingga 15 GWh. Kehadiran pabrik baterai menunjukkan upaya untuk menghubungkan potensi mineral nikel dengan kebutuhan sektor energi dan transportasi berbasis listrik.

Pengembangan ekosistem ini juga mencakup proyek hilirisasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara. Kawasan itu dirancang sebagai lokasi produksi terpadu untuk material baterai berbasis nikel, baterai, aluminium elektrolit, dan alat berat listrik.

Model industri yang terintegrasi menjadi penting karena nilai ekonomi tidak hanya terbentuk saat bijih ditambang atau dimurnikan. Nilai tambah berkembang pada setiap tahap berikutnya, termasuk pengolahan material, produksi komponen, manufaktur baterai, hingga penggunaan teknologi pendukung kendaraan listrik.

Moratorium Smelter Produk Antara Dikaji

Di tengah optimisme permintaan jangka panjang, pemerintah juga memperhatikan risiko kelebihan pasokan nikel global. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah sedang mengkaji kebijakan moratorium untuk smelter yang hanya menghasilkan produk antara.

Kajian itu terkait ancaman oversupply nikel dunia yang diperkirakan mencapai sekitar 2,5 juta ton. Pengendalian pembangunan fasilitas yang belum bergerak ke produk akhir diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan sekaligus mengarahkan investasi ke industri dengan pengolahan lebih dalam.

“Sekarang kan hilirisasi itu kan yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100% di sini (dalam negeri),” tegas Bahlil di KESDM, Jumat (17/10).

Arah kebijakan tersebut menempatkan hilirisasi bukan semata sebagai perluasan kapasitas smelter. Tujuan akhirnya adalah memperbesar bagian nilai ekonomi yang diproses dan dinikmati di Indonesia, dengan dukungan jaringan industri yang saling terhubung.

Kenaikan proyeksi permintaan nikel hingga 2031 menjadi pengingat bahwa persaingan global tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan cadangan mineral. Kemampuan membangun industri yang menghasilkan produk akhir, memperkuat pemasok domestik, serta menjaga keseimbangan pasokan akan menentukan seberapa besar peluang pasar tersebut dapat dikonversi menjadi manfaat ekonomi nasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21 39?

Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21 39 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21 39 matter?

Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21 39 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.