KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Seskab Teddy: Prabowo bawa tiga pesan utama di KTT BRICS

Published September 14, 2026 · Updated September 14, 2026 · By Thomas Davis - kabarlintas.com

Foto : Thomas Davis - kabarlintas.com

Prabowo Tekankan Kemandirian dan Solidaritas Global South di KTT BRICS 2026

Kabarlintas.com – Presiden RI Prabowo Subianto membawa agenda kemandirian nasional, penguatan solidaritas Global South, serta kerja sama BRICS yang lebih nyata dalam KTT BRICS 2026. Tiga pokok pesan itu disampaikan dalam sesi terbatas bertajuk “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” pada Sabtu, 12 September.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa posisi Indonesia di forum tersebut berpijak pada kebutuhan untuk membangun daya tahan dari dalam negeri sekaligus memperkuat kemitraan antarnegera berkembang. Arah ini mencakup kepentingan pangan, energi, pendidikan, akses teknologi, pembiayaan, dan peluang pembangunan yang lebih luas.

Kebutuhan dasar sebagai fondasi negara

Pesan pertama Presiden berpusat pada ketahanan nasional. Pemerintah menempatkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sebagai unsur utama agar sebuah negara memiliki pijakan yang kuat dalam menentukan kebijakan dan masa depannya sendiri.

“Kekuatan sebuah negara bermula dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, pangan, energi, dan pendidikan. Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak akan bergantung atau mudah didikte oleh kekuatan tertentu,” kata Teddy.

Pangan, energi, dan pendidikan dipandang bukan sekadar sektor pelayanan domestik. Ketiganya juga berkaitan dengan kapasitas negara menjaga stabilitas, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menjalankan pembangunan sesuai kepentingan nasional. Ketahanan pada tiga bidang tersebut memberi ruang lebih besar bagi Indonesia untuk mengambil keputusan tanpa tekanan ketergantungan yang berlebihan.

Penekanan terhadap kemandirian juga menunjukkan bahwa kerja sama internasional tidak dimaknai sebagai pengganti kemampuan nasional. Kemitraan tetap penting, tetapi fondasi dalam negeri perlu cukup kuat agar manfaat kerja sama dapat dirasakan secara lebih seimbang oleh masyarakat dan tidak hanya bergantung pada dinamika eksternal.

Persatuan negara berkembang

Pokok kedua yang dibawa Prabowo adalah pentingnya mempererat persatuan di antara negara-negara Global South. Dalam menghadapi perubahan ekonomi dunia, persaingan geopolitik, serta berbagai tantangan lintas batas, kebersamaan negara berkembang dinilai menjadi modal penting untuk menyuarakan kepentingan bersama.

“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” ungkap Teddy.

Semangat Konferensi Asia-Afrika kembali mendapat perhatian dalam konteks peran negara berkembang yang semakin besar di perekonomian dan geopolitik global. Persatuan tidak berarti setiap negara harus memiliki kepentingan yang sama dalam semua persoalan, melainkan membangun ruang dialog dan kerja sama agar aspirasi negara berkembang lebih diperhitungkan dalam pengambilan keputusan internasional.

Bagi Indonesia, gagasan ini berkaitan dengan upaya menjaga hubungan yang terbuka dan setara dengan banyak mitra. Forum multilateral dapat menjadi wadah untuk membahas kepentingan bersama, termasuk pembangunan, pemerataan akses sumber daya, dan penguatan kapasitas ekonomi negara-negara berkembang.

Potensi BRICS perlu diwujudkan dalam kerja konkret

Pesan ketiga menyoroti besarnya potensi BRICS. Kelompok ini mewakili sekitar separuh populasi dunia, sehingga memiliki modal manusia, pasar, sumber daya, serta pengetahuan yang besar. Presiden menekankan bahwa skala tersebut perlu diterjemahkan ke dalam program kolaborasi yang menghasilkan manfaat nyata.

“BRICS mewakili separuh populasi dunia. Kekuatan ini harus diubah menjadi kerja sama yang nyata: memperkuat ketahanan pangan dan energi, menghubungkan pasar, modal, teknologi, sumber daya, dan pengetahuan, serta membuka peluang pembangunan yang lebih besar bagi negara-negara berkembang,” tutur Teddy.

Kerja sama yang dimaksud mencakup penguatan ketahanan pangan dan energi, keterhubungan pasar, serta pertemuan antara modal, teknologi, sumber daya, dan keahlian. Bagi negara berkembang, bentuk kerja sama seperti ini relevan karena tantangan pembangunan sering kali tidak dapat diselesaikan oleh satu negara saja.

Kolaborasi yang konkret menjadi penting agar besarnya keanggotaan BRICS tidak berhenti pada angka atau pernyataan politik. Pertukaran pengetahuan, perluasan kesempatan pembangunan, dan konektivitas ekonomi dapat memberi nilai tambah apabila dijalankan melalui agenda yang mampu menjawab kebutuhan riil negara anggota dan mitra berkembang lainnya.

Tata kelola global yang lebih inklusif

Selain tiga agenda utama tersebut, Prabowo juga mendorong tata kelola global yang lebih adil dan inklusif. Dalam pandangan Indonesia, Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap perlu menjadi pusat sistem multilateral dunia, dengan penguatan agar lembaga itu dapat menjalankan perannya secara lebih efektif.

“PBB harus tetap menjadi pusat sistem multilateral, namun perlu diperkuat agar lebih representatif, responsif, dan mampu menghadirkan hasil konkret bagi masyarakat dunia,” lanjut Teddy.

Penekanan pada sistem multilateral mencerminkan kebutuhan akan forum internasional yang dapat menampung kepentingan lebih banyak negara, termasuk negara berkembang. Representasi, respons terhadap persoalan global, dan hasil yang dirasakan masyarakat menjadi unsur yang ditekankan dalam gagasan pembaruan tata kelola dunia tersebut.

Melalui keanggotaannya di BRICS, Indonesia terus mendorong terbentuknya tatanan internasional yang adil, setara, dan damai. Pesan yang dibawa Prabowo di KTT BRICS 2026 menempatkan kepentingan nasional dan kerja sama global sebagai dua hal yang saling melengkapi: memperkuat kemampuan di dalam negeri sambil memperluas solidaritas serta peluang pembangunan bersama di tingkat internasional.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Seskab Teddy?

Seskab Teddy is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Seskab Teddy matter?

Seskab Teddy matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.