KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mendikdasmen sebut revitalisasi SD di Cirebon benahi fasilitas belajar

Published September 28, 2026 · Updated September 28, 2026 · By Anthony Gonzalez - kabarlintas.com

Foto : Anthony Gonzalez - kabarlintas.com

Revitalisasi SD di Cirebon Ditujukan untuk Meningkatkan Kelayakan Ruang Belajar

Kabarlintas.com – Program pembenahan sekolah dasar di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus dijalankan untuk menghadirkan lingkungan belajar yang lebih layak bagi siswa. Salah satu lokasi yang sedang dikerjakan adalah SDN 1 Kedungjaya di Kecamatan Kedawung, sekolah hasil penyatuan dua SD yang kini memperoleh dukungan revitalisasi fasilitas.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti meninjau langsung perkembangan pembangunan di sekolah tersebut pada Senin. Ia menilai perbaikan sarana menjadi kebutuhan penting agar proses pembelajaran dapat berlangsung dalam ruang yang lebih nyaman, aman, dan memadai.

“Ini adalah penggabungan dari dua SD yang di-merger, yang mudah-mudahan dengan revitalisasi ini sarana pembelajaran bisa lebih representatif dan lebih baik lagi,” katanya.

Anggaran Rp1,8 Miliar untuk Sejumlah Fasilitas Utama

SDN 1 Kedungjaya menerima bantuan revitalisasi senilai Rp1,8 miliar. Dana itu dialokasikan untuk pembangunan 12 ruang kelas, dua ruang administrasi, satu perpustakaan, serta sembilan toilet. Kelengkapan tersebut diharapkan dapat menopang kebutuhan harian sekolah setelah dua satuan pendidikan disatukan.

Ruang kelas menjadi bagian utama dalam pekerjaan revitalisasi karena berhubungan langsung dengan kegiatan belajar siswa. Sementara itu, keberadaan perpustakaan memberi ruang bagi penguatan budaya baca dan akses bahan pembelajaran di lingkungan sekolah. Fasilitas administrasi juga diperlukan untuk mendukung pengelolaan pendidikan, sedangkan toilet yang cukup dan layak berkaitan dengan kebersihan serta kenyamanan warga sekolah.

Pekerjaan konstruksi di SDN 1 Kedungjaya telah mencapai sekitar 40 persen. Pemerintah menargetkan seluruh pembangunan dapat diselesaikan dalam kurang lebih dua bulan, apabila proses pengerjaan berjalan sesuai rencana.

“Alhamdulillah sekarang pembangunan sudah berjalan lancar, memang baru 40 persen, tapi insyaallah dalam waktu dua bulan lagi pembangunan sudah bisa selesai 100 persen,” ujarnya.

Revitalisasi di sekolah itu dikerjakan melalui mekanisme swakelola. Kepala sekolah, masyarakat di sekitar lokasi, dan panitia pembangunan dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan. Pola tersebut menempatkan unsur sekolah dan lingkungan setempat sebagai bagian dari proses pembangunan fasilitas pendidikan.

Pembangunan Dilakukan Bertahap Sesuai Kebutuhan Sekolah

Perbaikan sarana pendidikan tidak dilaksanakan secara seragam di seluruh sekolah dalam waktu yang sama. Penanganan dilakukan bertahap dengan mempertimbangkan kondisi bangunan serta kebutuhan fasilitas di masing-masing satuan pendidikan. Sekolah yang mengalami kerusakan lebih berat menjadi prioritas dalam penetapan alokasi pembangunan.

Direktur SD pada Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, serta Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Moch Salim Somad, menyampaikan bahwa ada 82 SD di Kabupaten Cirebon yang mendapat intervensi pembangunan pada 2026. Program tersebut didukung pembiayaan dari APBN, APBD Provinsi Jawa Barat, dan APBD Kabupaten Cirebon.

Total anggaran untuk intervensi di 82 sekolah itu mencapai Rp44 miliar. Cakupan pendanaan dari beberapa sumber menunjukkan bahwa pembenahan fasilitas pendidikan memerlukan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten.

“Pembangunan bertahap dan kita prioritaskan sekolah yang rusak berat yang bisa kita berikan alokasi untuk tahun 2026,” ucap dia.

Bagi siswa, peningkatan kondisi fisik sekolah bukan hanya soal bangunan baru. Ruang belajar yang memadai dapat membantu kegiatan kelas berlangsung lebih tertata, sementara sanitasi dan fasilitas pendukung lain menjadi bagian penting dari kehidupan sekolah setiap hari. Karena itu, revitalisasi perlu dipahami sebagai upaya memperbaiki ekosistem belajar, bukan sekadar pekerjaan konstruksi.

Peninjauan Program Makan Bergizi Gratis

Dalam kunjungan yang sama, Abdul Mu'ti juga memeriksa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di SDN 1 Kedungjaya. Menu yang diterima siswa dinilai telah mencakup unsur sayuran, protein, dan karbohidrat, serta memenuhi standar yang ditetapkan.

Ketersediaan unsur gizi tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan MBG karena makanan bagi peserta didik perlu disusun dengan komposisi yang mencakup kebutuhan dasar. Kunjungan lapangan memberi kesempatan untuk melihat langsung penerapan program di sekolah, termasuk kelancaran pelaksanaannya bagi para siswa.

“Tadi saya meninjau langsung MBG-nya bagus dan sudah dua tahun katanya tadi saya tanya. Lancar semua,” katanya.

Perbaikan bangunan dan pelaksanaan program pangan bergizi menjadi dua hal yang berjalan beriringan di SDN 1 Kedungjaya. Fasilitas pendidikan yang lebih representatif mendukung suasana belajar, sedangkan penyediaan makanan dengan unsur gizi lengkap berkaitan dengan kesiapan siswa menjalani aktivitas sekolah.

Dengan target penyelesaian revitalisasi dalam sekitar dua bulan, sekolah tersebut diharapkan segera memiliki ruang kelas, ruang administrasi, perpustakaan, dan toilet yang lebih sesuai kebutuhan. Pembangunan di Cirebon juga menjadi bagian dari agenda lebih luas pada 2026, ketika puluhan SD di daerah itu menerima penanganan sesuai tingkat kerusakan dan prioritas fasilitasnya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mendikdasmen sebut revitalisasi SD di Cirebon?

Mendikdasmen sebut revitalisasi SD di Cirebon is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mendikdasmen sebut revitalisasi SD di Cirebon matter?

Mendikdasmen sebut revitalisasi SD di Cirebon matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.