KemenPPPA sebut Ruang Bersama Indonesia cegah anak tidak sekolah
Desa Didorong Perkuat Pencegahan Anak Usia Sekolah yang Tidak Bersekolah
Kabarlintas.com – Upaya mencegah anak usia sekolah terputus dari pendidikan perlu dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan keluarga, termasuk di tingkat desa. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menilai program Ruang Bersama Indonesia (RBI) dapat menjadi salah satu ruang penguatan peran masyarakat untuk menekan jumlah anak tidak sekolah (ATS).
RBI merupakan program di tingkat desa yang sebelumnya menggunakan nama Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Pergantian nama tersebut tidak mengubah perhatian utama program terhadap pemenuhan hak perempuan dan anak. Salah satu isu yang tetap mendapat tempat ialah kondisi anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan atau tidak lagi bersekolah.
“Ruang Bersama Indonesia di tingkat desa ini juga bisa mendukung upaya untuk mencegah terjadinya anak yang tidak sekolah,” kata Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Pemenuhan Hak Anak Wilayah III serta Asisten Deputi Pemenuhan Hak Sipil, Informasi, dan Partisipasi Anak KemenPPPA Endah Sri Rejeki.
Pernyataan itu disampaikan Endah dalam Rapat Penguatan Peran Desa dalam Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah yang diikuti secara daring dari Jakarta pada Rabu. Forum tersebut menempatkan desa sebagai bagian penting dari upaya mengenali persoalan anak dan keluarga di lingkungan tempat tinggal mereka.
Indikator Hak Anak dalam Program RBI
Dalam pelaksanaannya, RBI memiliki tiga dimensi serta sejumlah indikator. Di antara indikator yang terkait dengan pemenuhan hak anak terdapat perhatian terhadap anak usia sekolah yang tidak bersekolah. Keberadaan ukuran tersebut membuat pelaksanaan RBI tidak hanya berfokus pada gagasan umum mengenai lingkungan yang ramah bagi anak, tetapi juga dapat mengarahkan perhatian desa pada situasi pendidikan anak di wilayahnya.
Persoalan anak tidak sekolah dapat muncul dalam beragam keadaan yang dihadapi keluarga dan anak. Karena itu, pencegahan membutuhkan kedekatan dengan kondisi warga sehari-hari. Desa, keluarga, dan lingkungan sosial berada pada posisi yang dapat melihat kebutuhan anak secara lebih awal serta membangun dukungan agar hak anak atas pendidikan tetap diperhatikan.
Melalui program RBI, perhatian terhadap ATS dapat diintegrasikan ke dalam kerja di tingkat desa. Pendekatan ini memberi ruang agar isu pendidikan anak tidak dipandang terpisah dari pemenuhan hak anak, perlindungan anak, dan penguatan keluarga. Dengan demikian, desa dapat menjadi lingkungan yang lebih peka terhadap anak usia sekolah yang membutuhkan dukungan.
Perubahan Nama Tidak Menghilangkan Tujuan Program
Nama Ruang Bersama Indonesia menggantikan sebutan Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Meski nomenklaturnya berubah, keterhubungan program dengan hak perempuan dan anak tetap dipertahankan. Perhatian terhadap anak yang tidak bersekolah menjadi salah satu bagian dari arah tersebut.
Penggunaan istilah RBI juga menegaskan pentingnya ruang kolaborasi di lingkungan masyarakat. Pencegahan ATS tidak hanya berkaitan dengan satu pihak. Keluarga memiliki peran utama dalam pengasuhan, sementara desa dapat mendukung melalui penguatan program, perhatian terhadap kebutuhan warga, dan pelaksanaan indikator yang telah ditetapkan.
Penguatan peran desa penting karena persoalan anak sering kali berkaitan dengan situasi yang terjadi dekat dengan tempat tinggalnya. Ketika kebutuhan anak dan keluarganya dapat diperhatikan dalam lingkungan terdekat, upaya pencegahan dapat diarahkan secara lebih relevan dengan kondisi yang mereka hadapi.
Puspaga Menjangkau Tingkat Kabupaten
Selain RBI, KemenPPPA juga menjalankan Pusat Pembelajaran Keluarga atau Puspaga. Layanan Puspaga telah tersedia hingga tingkat kabupaten. Keberadaan layanan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap keluarga dalam membangun pola pengasuhan yang baik.
Endah menyampaikan bahwa penguatan layanan Puspaga hingga ke masyarakat dan desa merupakan salah satu cara untuk mendukung keluarga dalam menjalankan pengasuhan. Pengasuhan keluarga memiliki arti penting dalam memastikan anak memperoleh perhatian, pendampingan, serta kesempatan untuk tumbuh dan belajar sesuai kebutuhannya.
RBI dan Puspaga dapat dilihat sebagai dua unsur yang saling mendukung. RBI memberi wadah penguatan di tingkat desa, sedangkan Puspaga menyediakan dukungan pembelajaran keluarga yang telah tersedia di tingkat kabupaten. Keduanya relevan dalam membangun perhatian bersama terhadap anak usia sekolah yang tidak bersekolah.
Peran Lingkungan Terdekat Anak
Pencegahan ATS memerlukan keterlibatan berbagai unsur di sekitar anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang mendampingi anak, sementara desa dapat membantu memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pemenuhan hak anak. Pelaksanaan program yang memperhatikan kondisi anak usia sekolah dapat membantu menjadikan isu tersebut bagian dari agenda bersama di lingkungan warga.
Penguatan peran desa juga membuka peluang agar perhatian terhadap anak tidak berhenti pada saat persoalan sudah terjadi. Dengan memasukkan kondisi ATS dalam indikator RBI, desa memiliki dasar untuk memberi perhatian pada pencegahan sebagai bagian dari pelaksanaan program pemenuhan hak anak.
KemenPPPA berharap kombinasi penguatan desa, pengasuhan keluarga, dan pelaksanaan RBI dapat membuat pencegahan anak tidak sekolah menjangkau persoalan yang dialami anak maupun keluarganya di lingkungan tempat tinggal. Arah ini menempatkan perlindungan dan pemenuhan hak anak sebagai tanggung jawab yang perlu dibangun bersama, mulai dari ruang sosial yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KemenPPPA sebut Ruang Bersama Indonesia cegah?KemenPPPA sebut Ruang Bersama Indonesia cegah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KemenPPPA sebut Ruang Bersama Indonesia cegah matter?KemenPPPA sebut Ruang Bersama Indonesia cegah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.