KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BI perkuat rantai nilai halal Indonesia agar berdaya saing global

Published September 26, 2026 · Updated September 26, 2026 · By Barbara Thomas - kabarlintas.com

Foto : Barbara Thomas - kabarlintas.com

BI Dorong Ekosistem Halal Terpadu untuk Menembus Pasar Dunia

Kabarlintas.com – Penguatan ekonomi halal Indonesia tidak cukup dilakukan dengan meningkatkan jumlah produk yang tersedia di pasar. Pelaku usaha juga memerlukan akses pembiayaan, dukungan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, serta jalur pemasaran yang saling tersambung agar mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Bank Indonesia menempatkan pembenahan rantai nilai halal sebagai salah satu agenda penting dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Langkah ini mencakup seluruh proses, mulai dari penyediaan bahan dan produksi, penguatan permintaan, hingga peran lembaga yang mendukung pertumbuhan usaha halal.

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan arah kebijakan tersebut saat membuka Festival Ekonomi Syariah Jawa 2026 di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu. Pengembangan ekosistem yang menyeluruh dipandang penting agar besarnya potensi ekonomi halal nasional benar-benar memberi dampak bagi perekonomian.

“Yang pertama adalah penguatan ekosistem rantai nilai halal yang terintegrasi dan berdaya saing, dari sisi supply, demand , sampai lembaga pendukungnya kita lihat semua menjadi satu kesatuan,” katanya.

Produk Halal Perlu Ditopang Keterhubungan Ekosistem

Indonesia telah memiliki beragam sektor yang dapat menjadi kekuatan dalam ekonomi halal. Makanan halal, busana muslim atau modest fashion, serta pariwisata ramah Muslim merupakan sejumlah bidang yang telah berkembang dan memiliki ruang ekspansi yang luas.

Namun, pertumbuhan masing-masing sektor tidak otomatis membentuk daya saing yang kuat apabila pelaku di dalamnya masih berjalan sendiri-sendiri. Produk yang baik tetap membutuhkan pasokan yang andal, standar yang terjaga, pendanaan memadai, serta akses menuju konsumen yang lebih luas. Hubungan antarelemen inilah yang menjadi inti dari rantai nilai halal terintegrasi.

Dalam praktiknya, ekosistem tersebut melibatkan banyak pihak. Produsen membutuhkan mitra pemasok dan pembeli, sementara pelaku usaha kecil memerlukan kesempatan untuk meningkatkan kapasitas. Lembaga keuangan memiliki peran dalam menyediakan modal, sedangkan pemerintah dan institusi terkait dapat mendukung melalui penguatan lingkungan usaha dan kolaborasi lintas sektor.

Pendekatan terhubung juga penting bagi produk yang ingin memasuki pasar global. Persaingan internasional menuntut pelaku usaha untuk tidak hanya menawarkan nilai kehalalan, melainkan juga kualitas, konsistensi pasokan, kesiapan pembiayaan, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar. Dengan rantai nilai yang lebih rapi, produk Indonesia memiliki landasan yang lebih baik untuk memperluas jangkauan.

Pembiayaan Syariah Menjadi Pekerjaan Penting

Salah satu perhatian utama BI adalah ketersediaan produk keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha halal. Pembiayaan menjadi faktor menentukan karena usaha tidak hanya membutuhkan modal untuk memulai kegiatan, tetapi juga untuk memperbesar produksi, memperbaiki proses bisnis, dan meningkatkan daya saing.

BI mendorong pengembangan pembiayaan syariah melalui kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia, Dewan Syariah Nasional, kalangan akademisi, serta Otoritas Jasa Keuangan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk merumuskan produk keuangan yang lebih relevan bagi kebutuhan dunia usaha.

“Produk keuangannya yang terbatas, ini pekerjaan rumah kita, sehingga produk-produk keuangan syariah harus terus kita dorong dan dikembangkan,” ujar dia.

Keterbatasan pilihan pembiayaan dapat menjadi hambatan bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas. Karena itu, perluasan variasi produk keuangan syariah tidak semata berkaitan dengan pertumbuhan industri keuangan, tetapi juga dengan kemampuan usaha halal untuk bertahan dan berkembang.

Akses modal yang lebih sesuai dapat membantu pelaku usaha meningkatkan skala kegiatan tanpa mengabaikan prinsip syariah. Bagi usaha makanan halal, misalnya, pembiayaan dapat mendukung penambahan kapasitas produksi. Pada sektor modest fashion, dukungan tersebut dapat membuka peluang pengembangan desain, pengadaan bahan, dan perluasan pasar. Sementara pada pariwisata ramah Muslim, penguatan pembiayaan dapat menopang kesiapan layanan yang dibutuhkan wisatawan.

Literasi dan Inklusi Perlu Berjalan Bersamaan

Selain memperluas pembiayaan, BI juga akan mendorong literasi dan inklusi keuangan syariah. Pemahaman masyarakat dan pelaku usaha mengenai prinsip syariah perlu diikuti dengan kemudahan untuk mengakses layanan keuangan yang tersedia.

Literasi membantu calon pengguna memahami pilihan produk, manfaat, dan karakteristik layanan keuangan syariah. Sementara itu, inklusi memastikan bahwa pemahaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi akses nyata. Kedua unsur ini saling berkaitan: pengetahuan tanpa akses akan membatasi manfaat, sedangkan akses tanpa pemahaman dapat membuat pemanfaatan produk belum optimal.

Langkah tersebut relevan bagi pelaku usaha dalam rantai nilai halal, termasuk mereka yang telah memahami prinsip syariah tetapi belum memiliki dukungan permodalan atau layanan keuangan yang mudah dijangkau. Dengan akses yang lebih baik, pelaku usaha dapat fokus mengembangkan kualitas produk dan memperluas aktivitas bisnisnya.

Sinergi Lintas Pihak Menentukan Hasil

Penguatan rantai nilai halal membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, industri, institusi keuangan, serta masyarakat. Setiap pihak memiliki peran yang berbeda, tetapi tujuannya sama: membentuk ekosistem halal yang terintegrasi, produktif, dan berdaya saing.

Kerja sama tersebut menjadi penting karena pengembangan ekonomi halal tidak berhenti pada satu sektor. Keberhasilan produk halal bergantung pada keterhubungan produksi, pembiayaan, pasar, dan dukungan kelembagaan. Ketika seluruh elemen bergerak selaras, peluang Indonesia untuk menangkap permintaan pasar global dapat semakin terbuka.

Fokus BI pada integrasi rantai nilai menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi syariah diarahkan untuk memberi manfaat yang lebih luas. Bukan hanya mendorong lahirnya produk halal, melainkan juga membangun dukungan yang memungkinkan produk tersebut tumbuh secara berkelanjutan dan mampu menghadapi persaingan dunia.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is BI perkuat rantai nilai halal Indonesia?

BI perkuat rantai nilai halal Indonesia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BI perkuat rantai nilai halal Indonesia matter?

BI perkuat rantai nilai halal Indonesia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.