Iran: Selat Hormuz tetap tutup sampai AS penuhi tujuh syarat damai
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup
Kabarlintas.com – Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat perdamaian yang diajukan Teheran. Usulan tersebut disampaikan melalui Qatar pada September lalu, di tengah konflik yang masih berlangsung antara kedua negara.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Washington telah mencoba menjalin komunikasi melalui tiga jalur, yaitu Irak, Pakistan, dan Qatar. Namun, pembukaan kembali jalur pelayaran strategis itu tetap dikaitkan dengan penerimaan seluruh syarat yang diajukan pihaknya.
"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh syarat Iran dipenuhi," kata Rezaei kepada saluran televisi Iran Press TV pada Minggu (11/10).
Menurut Rezaei, Amerika Serikat telah memberikan tanggapan atas persyaratan tersebut dan menerima sebagian poin. Meski demikian, ia menilai respons Washington terhadap sejumlah syarat lain masih belum jelas. Kondisi itu membuat perundingan untuk meredakan konflik belum menghasilkan kepastian.
Tudingan Pengkhianatan dalam Upaya Perundingan
Rezaei juga menuding adanya ketidaksesuaian antara jalur diplomasi dan tindakan militer Amerika Serikat. Ia mengatakan bahwa setiap kali pihaknya kembali ke meja perundingan dengan AS, Pentagon justru kembali melancarkan serangan. Dalam pandangannya, tindakan tersebut merupakan bentuk pengkhianatan yang nyata terhadap proses dialog.
Pada 28 Februari lalu, AS dan Israel mulai menyerang sejumlah sasaran di Iran. Serangan itu kemudian dibalas dengan serangan balasan. Ketegangan berlanjut pada Maret, ketika AS dan Israel menyerang target di ladang gas South Pars serta kawasan industri Assaluyeh di wilayah selatan.
Rangkaian serangan tersebut memperdalam ketidakpercayaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Infrastruktur energi menjadi salah satu titik penting dalam konflik karena kawasan yang menjadi sasaran memiliki peran besar bagi kegiatan industri dan pasokan energi.
Memorandum Penghentian Permusuhan Belum Bertahan Lama
Pada pertengahan Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani memorandum untuk menghentikan permusuhan. Akan tetapi, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena kedua pihak kembali saling melancarkan serangan setelahnya. Hingga kini, konflik belum menemukan penyelesaian yang dapat menghentikan eskalasi secara menyeluruh.
Situasi itu turut menjadikan tujuh syarat perdamaian sebagai unsur penting dalam posisi politik Teheran. Penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai tekanan untuk mendorong kejelasan sikap dari Amerika Serikat atas seluruh poin yang diajukan.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Energi Dunia
Eskalasi konflik hampir menghentikan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute penting bagi pengiriman minyak, produk minyak, dan gas alam cair ke berbagai kawasan dunia.
Gangguan pada pelayaran di Selat Hormuz dapat memengaruhi kelancaran pasokan energi internasional. Ketidakpastian akses melalui jalur strategis ini juga telah mendorong kenaikan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Bagi pasar energi, stabilitas jalur pelayaran menjadi faktor penting karena pengiriman minyak dan gas bergantung pada akses yang aman. Selama konflik belum mereda dan syarat perdamaian belum disepakati, risiko gangguan terhadap distribusi energi tetap menjadi perhatian.
FAQ: Penutupan Selat Hormuz
Mengapa Selat Hormuz masih ditutup?
Iran menyatakan penutupan akan berlangsung sampai Amerika Serikat memenuhi tujuh syarat perdamaian yang diajukan melalui Qatar pada September lalu.
Negara mana yang menjadi jalur komunikasi antara kedua pihak?
Menurut Mohsen Rezaei, upaya komunikasi dilakukan melalui Irak, Pakistan, dan Qatar.
Apa dampak gangguan pelayaran di Selat Hormuz?
Gangguan pelayaran berpotensi menghambat pengiriman minyak, produk minyak, dan gas alam cair dunia. Kondisi tersebut juga dapat ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.