Kadek Dhinda fokus benahi fisik untuk Asian Games 2026
Menatap Aichi-Nagoya: Dhinda Perkuat Fondasi Fisik Jelang Asian Games 2026
Kabarlintas.com – Perhelatan Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, semakin mendekat dan para atlet Indonesia kini memasuki fase krusial persiapan. Di sektor bulu tangkis, jadwal kompetisi telah ditetapkan berlangsung pada 20 hingga 29 September di Ichinomiya City Municipal Gymnasium. Nomor beregu putra dan putri akan dipertandingkan terlebih dahulu pada 20–24 September, sementara babak perseorangan baru dimulai pada 25 September. Bagi skuad Merah Putih, setiap hari yang tersisa sebelum keberangkatan ke Jepang menjadi waktu yang sangat berharga untuk menajamkan segala aspek performa.
Dalam konteks inilah Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, tunggal putri berusia 20 tahun, memilih untuk memprioritaskan peningkatan kondisi fisik dan daya tahan. Keputusan tersebut diambil setelah ia menyelesaikan kiprahnya di turnamen Pontianak Indonesia Masters 2026 yang berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Kamis pekan lalu.
Empat Nama di Skuad Putri
Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) telah mengumumkan daftar empat pemain tunggal yang akan memperkuat tim putri Indonesia pada ajang Asian Games 2026. Selain Dhinda, tiga nama lain yang turut dipanggil adalah Putri Kusuma Wardani, Thalita Ramadhani Wiryawan, dan Mutiara Ayu Puspitasari. Pemilihan keempat atlet ini dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, mulai dari performa terkini, kesiapan fisik dan teknis, hingga kebutuhan strategis tim secara keseluruhan. Skuad lengkap Indonesia untuk pesta olahraga Asia tersebut berjumlah 20 pemain, dan Dhinda didaftarkan secara khusus untuk nomor beregu.
Keputusan PP PBSI menempatkan Dhinda dalam skuad bukan tanpa alasan. Pemain asal Bali itu telah menunjukkan konsistensi dalam beberapa turnamen internasional sepanjang musim 2026, termasuk kontribusinya di Piala Uber. Pengalaman berkompetisi pada format beregu tingkat internasional menjadi nilai tambah yang sulit digantikan oleh pemain lain.
Evaluasi dari Pontianak
Turnamen Pontianak Indonesia Masters 2026 menjadi salah satu tolok ukur terakhir Dhinda sebelum memasuki fase persiapan akhir. Ia terhenti di babak 16 besar setelah menelan kekalahan dua gim langsung, 19-21 dan 17-21, dari unggulan keempat Rachel Chan asal Kanada. Kekalahan ini sekaligus menjadi pertemuan kedua Dhinda dengan Chan sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, pada fase grup Piala Uber di bulan April, Dhinda juga tumbang dengan skor 21-13, 19-21, 11-21 dari pemain yang sama.
Dhinda sendiri mengakui bahwa pola permainan Chan menciptakan tantangan tersendiri. Chan dikenal agresif dalam memotong reli dan mencari penyelesaian cepat, sementara gaya Dhinda lebih condong ke arah pertukaran bola yang panjang dan terukur. Ketidakcocokan ritme inilah yang membuat Dhinda beberapa kali kehilangan posisi di lapangan.
"Lawan bermain dengan banyak spekulasi dan tidak mau diajak rally, sementara tipe permainan saya adalah rally. Tadi sebenarnya ada beberapa kali dia mati langkah tapi masih bisa membalikkan bola dan balikannya itu malah bagus dan saya posisinya malah tidak siap."
Menjelang akhir gim pertama, Chan menaikkan tempo permainan dan berupaya mengambil inisiatif serangan lebih awal. Dhinda mengaku telah mengantisipasi perubahan ritme tersebut, namun mengakui bahwa respons kakinya belum cukup cepat untuk mengimbangi akselerasi lawan.
"Di poin-poin akhir gim pertama itu dia berusaha mempercepat permainan, mau langsung mematikan saya terus. Saya sudah antisipasi tapi memang pergerakan kakinya kurang cepat."
Fokus Fisik: Kebutuhan Mendesak
Setelah kembali ke Jakarta, Dhinda menyatakan bahwa prioritas utamanya adalah membangun kembali fondasi kebugaran. Ia menyadari bahwa jarak menuju Asian Games 2026 tidak lagi panjang, sehingga setiap sesi latihan harus diarahkan pada peningkatan daya tahan dan kapasitas fisik yang memadai untuk menghadapi tekanan kompetisi beregu yang berlangsung selama lima hari berturut-turut.
"Asian Games jaraknya tidak lama lagi dan setelah kembali ke Jakarta, saya mau menambah fisik dan daya tahan."
Format beregu di Asian Games menuntut ketahanan ekstra karena seorang pemain tunggal dapat turun lapangan hingga tiga kali dalam satu hari, menghadapi lawan dengan gaya bermain yang berbeda-beda. Tanpa kapasitas fisik yang memadai, konsistensi performa dari gim pertama hingga gim terakhir akan sulit dipertahankan. Inilah alasan mengapa Dhinda memilih untuk tidak mengejar turnamen tambahan dalam sisa waktu, melainkan mengalokasikan seluruh energi pada program penguatan fisik di bawah pengawasan pelatih tim nasional.
Piala Uber: Bekal Mental dan Teknis
Salah satu modal penting yang dibawa Dhinda menuju Asian Games adalah pengalaman berkompetisi di Piala Uber 2026. Tim Indonesia berhasil meraih medali perunggu pada turnamen beregu putri tersebut, dan Dhinda menjadi bagian dari skuad yang menempuh perjalanan itu. Persaingan ketat pada format beregu internasional memberikan gambaran nyata tentang tekanan mental, manajemen energi, dan dinamika tim yang akan ia hadapi di Aichi-Nagoya.
Pengalaman itu juga mengasah kemampuan Dhinda dalam membaca situasi pertandingan beregu, di mana setiap gim memiliki bobot strategis berbeda dan pemain harus mampu beradaptasi cepat terhadap lawan yang berganti-ganti dalam satu hari kompetisi. Kemampuan tersebut menjadi pembeda antara pemain yang hanya kompeten di turnamen perseorangan dengan pemain yang siap untuk tanggung jawab tim.
Dengan jadwal bulu tangkis Asian Games 2026 yang telah ditetapkan dan skuad yang sudah final, fase persiapan kini memasuki tahap paling menentukan. Bagi Dhinda, sisa waktu sebelum keberangkatan ke Jepang bukan lagi soal menambah jam terbang di turnamen, melainkan soal memastikan bahwa tubuh dan pikiran berada dalam kondisi puncak ketika peluit pertama berbunyi di Ichinomiya City Municipal Gymnasium.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kadek Dhinda fokus benahi fisik?Kadek Dhinda fokus benahi fisik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kadek Dhinda fokus benahi fisik matter?Kadek Dhinda fokus benahi fisik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.