Wamenpar: Devisa pariwisata capai 8,43 miliar AS pada semester I 2026
Devisa Pariwisata Indonesia Tembus 8,43 Miliar Dolar AS pada Paruh Pertama 2026
Kabarlintas.com – Sektor pariwisata kembali menunjukkan perannya bagi ekonomi Indonesia. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, perolehan devisa dari kegiatan pariwisata mencapai 8,43 miliar dolar AS. Angka ini menegaskan bahwa perjalanan wisata, kedatangan pelancong asing, serta aktivitas ekonomi pendukungnya tetap menjadi sumber penerimaan penting bagi negara.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyampaikan capaian tersebut saat menghadiri wisuda Politeknik Pariwisata Makassar di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu. Ia menilai perkembangan itu menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk menjaga pertumbuhan pariwisata agar tidak hanya besar secara angka, tetapi juga memberi manfaat yang berkelanjutan.
“Pada semester pertama 2026, kontribusi devisa pariwisata telah mencapai 8,43 miliar dolar AS. Ini menunjukkan sektor pariwisata terus menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus sumber devisa negara,” kata Ni Luh.
Melanjutkan tren positif 2025
Pencapaian pada semester pertama 2026 melanjutkan kinerja positif yang tercatat sepanjang tahun sebelumnya. Pada 2025, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Dalam periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan.
Aktivitas wisata sepanjang 2025 tersebut menghasilkan devisa pariwisata sebesar 18,27 miliar dolar AS. Kunjungan wisatawan mancanegara dan mobilitas wisatawan domestik sama-sama memiliki arti penting, karena keduanya menggerakkan belanja di berbagai layanan, mulai dari akomodasi, transportasi, kuliner, hingga produk dan pengalaman berbasis budaya lokal.
Nilai devisa menjadi salah satu gambaran kontribusi wisatawan asing terhadap perekonomian nasional. Sementara itu, tingginya perjalanan domestik memperlihatkan besarnya peran masyarakat Indonesia dalam menjaga perputaran ekonomi di berbagai destinasi. Pertumbuhan tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memastikan pengembangan pariwisata tidak mengorbankan lingkungan, identitas daerah, maupun kualitas pengalaman pengunjung.
Fokus tidak semata-mata pada jumlah kunjungan
Ni Luh menekankan bahwa arah pembangunan pariwisata ke depan tidak cukup hanya mengejar kenaikan jumlah pelancong. Kualitas layanan, kesiapan sumber daya manusia, kelestarian destinasi, serta manfaat nyata bagi masyarakat setempat perlu berjalan beriringan.
“Pengembangan pariwisata masa depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga kualitas dan keberlanjutan,” ujarnya.
Pendekatan tersebut penting karena setiap destinasi memiliki daya dukung, karakter budaya, dan kebutuhan masyarakat yang berbeda. Pariwisata yang bertumbuh dengan baik bukan hanya menghadirkan lebih banyak orang ke suatu daerah, melainkan juga menciptakan pengalaman yang aman, nyaman, berkesan, dan menghormati kehidupan lokal.
Keberlanjutan juga berkaitan dengan kemampuan destinasi untuk tetap menarik dalam jangka panjang. Pengelolaan yang memperhatikan kebersihan, pelestarian budaya, kualitas pelayanan, dan keterlibatan warga dapat membantu menjaga nilai sebuah daerah wisata. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak berhenti pada satu musim kunjungan, tetapi dapat terus dirasakan oleh generasi berikutnya.
Pesan bagi lulusan Politeknik Pariwisata Makassar
Dalam kesempatan wisuda itu, Ni Luh mengajak para lulusan Politeknik Pariwisata Makassar untuk mempersiapkan diri sebagai tenaga profesional yang mampu menjawab perubahan kebutuhan industri. Penguasaan keterampilan teknis dinilai perlu dilengkapi dengan ketahanan pribadi, kemampuan beradaptasi, integritas, serta kecakapan berkomunikasi dalam lingkungan yang beragam.
Industri pariwisata mempertemukan banyak latar belakang, baik wisatawan, pelaku usaha, pekerja, maupun masyarakat di destinasi. Karena itu, kemampuan bekerja sama dan menghargai perbedaan menjadi bagian penting dari profesionalisme. Lulusan pendidikan pariwisata diharapkan dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pekerja terampil, tetapi juga sebagai penggerak peningkatan mutu layanan dan pengembangan destinasi.
Ni Luh juga mengingatkan pentingnya membawa nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan dalam perjalanan profesional para wisudawan. Nilai sipakainge, sipakatau, dan sipakalebbi menjadi pengingat untuk saling mengingatkan, memanusiakan sesama, serta menunjukkan penghormatan dalam kehidupan dan pekerjaan.
“Miliki keberanian untuk menembus batas, terus belajar, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Jadilah bagian dari generasi yang mampu membangun pariwisata Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan,” demikian Ni Luh.
Pesan tersebut sejalan dengan kebutuhan sektor pariwisata yang terus berkembang. Pertumbuhan devisa hingga 8,43 miliar dolar AS pada semester pertama 2026 memberi ruang optimisme, namun keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan menjaga mutu dan keberlanjutan. Dalam proses itu, tenaga kerja pariwisata yang kompeten dan berakar pada nilai lokal akan menjadi salah satu fondasi utama bagi masa depan pariwisata Indonesia.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Wamenpar?Wamenpar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Wamenpar matter?Wamenpar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.