KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Penerbangan di Rendani kembali normal di tengah kabut asap

Published Oktober 5, 2026 · Updated Oktober 5, 2026 · By Barbara Thomas - kabarlintas.com

Foto : Barbara Thomas - kabarlintas.com

Penerbangan Rendani Beroperasi Normal Meski Kabut Asap Masih Menyelimuti Manokwari

Kabarlintas.com – Aktivitas penerbangan komersial di Bandar Udara Rendani, Manokwari, Papua Barat, kembali berjalan normal pada Senin (5/10). Operasional dapat dilanjutkan setelah jarak pandang di sekitar bandara dinilai cukup aman untuk proses pendaratan, walaupun kabut asap kebakaran hutan dan lahan masih terasa di wilayah Manokwari.

Unit Penyelenggara Bandar Udara Kelas II Rendani mencatat dua maskapai melayani rute keluar dan masuk Manokwari pada hari tersebut. Kedua penerbangan itu dapat berlangsung tanpa gangguan setelah cuaca memungkinkan pesawat mendarat dengan aman.

“Hari ini hanya ada dua penerbangan saja dan semua berjalan dengan normal karena jarak pandang memungkinkan untuk pendaratan,” ucap Herman.

Kepala UPBU Kelas II Rendani Herman Sujito menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi perkembangan positif setelah penerbangan di bandara itu terdampak asap selama dua hari sebelumnya. Pada Sabtu (3/10) dan Minggu (4/10), sejumlah penerbangan tidak dapat menyelesaikan perjalanan di Manokwari karena pandangan pilot ketika mendekati landasan sangat terbatas.

Penerbangan Sempat Dialihkan

Pada Sabtu, penerbangan dari Jayapura yang dijadwalkan tiba di Manokwari sekitar pukul 12.00 WIT tidak dapat mendarat. Saat itu, jarak pandang hanya sekitar 500 meter, sehingga pesawat dialihkan menuju Ambon. Situasi kabut asap tidak membaik hingga sore hari dan penerbangan berikutnya akhirnya mendarat di Sorong.

Gangguan berlanjut pada Minggu. Pesawat dari Sorong, Jayapura, Nabire, serta Kaimana tidak dapat mendarat di Rendani ketika jarak pandang berada pada kisaran 3 kilometer. Keterbatasan visual di jalur pendekatan menjadi faktor penting dalam keputusan operasional penerbangan, karena keselamatan awak dan penumpang tetap menjadi pertimbangan utama.

“Hari Minggu juga sama, penerbangan dari Sorong, Jayapura, Nabire, dan Kaimana tidak bisa mendarat karena jarak pandang hanya 3 kilometer,” ujarnya.

Kembalinya penerbangan pada Senin menunjukkan perubahan kondisi yang cukup signifikan di sekitar bandara. Namun, keberlangsungan jadwal penerbangan tetap bergantung pada perkembangan jarak pandang dan kondisi atmosfer dari waktu ke waktu. Kabut asap dapat berubah cepat, terutama ketika sumber asap masih muncul dari sejumlah wilayah di Papua dan kawasan sekitarnya.

Asap Dipengaruhi Kebakaran dari Sejumlah Daerah

Kabut asap di Manokwari tidak hanya berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Papua Barat. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Papua Barat, Danang Tri Soesilo, menjelaskan bahwa massa asap dari Papua Selatan dan Papua Nugini turut mempertebal kondisi di Manokwari.

Asap kiriman itu bergabung dengan dampak karhutla yang terjadi di beberapa wilayah Papua Barat. Daerah yang terdampak aktivitas kebakaran antara lain Kabupaten Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kaimana, dan Fakfak. Selain itu, asap dari Maybrat di Papua Barat Daya juga mencapai Manokwari.

“Termasuk juga karhutla dari Maybrat, Papua Barat Daya yang asapnya kena sampai ke Manokwari,” ujarnya.

Kondisi lintaswilayah ini memperlihatkan bahwa dampak asap tidak selalu berhenti di lokasi kebakaran. Arah angin dan pergerakan massa udara dapat membawa partikel asap menuju daerah lain, termasuk kawasan perkotaan dan jalur transportasi udara. Di Manokwari, dampaknya menjadi sangat terlihat karena jarak pandang merupakan salah satu unsur penting bagi kelancaran penerbangan.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika per 3 Oktober 2026 mencatat 2.658 titik panas di Papua Selatan. Di wilayah Papua Barat, jumlah titik panas mencapai 1.294 titik. Angka tersebut menggambarkan luasnya perhatian yang diperlukan terhadap potensi kebakaran dan penyebaran asap di kawasan timur Indonesia.

Keselamatan Tetap Menjadi Pertimbangan Utama

Bagi masyarakat yang memiliki rencana perjalanan melalui Bandara Rendani, perubahan cuaca dan jarak pandang menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Normalnya penerbangan pada Senin memberi ruang bagi mobilitas udara kembali berjalan, tetapi kondisi kabut asap dapat memengaruhi jadwal apabila jarak pandang kembali menurun.

Keputusan pembatalan atau pengalihan pendaratan pada akhir pekan sebelumnya memperlihatkan penerapan langkah keselamatan ketika kondisi tidak memenuhi kebutuhan operasional. Pesawat yang dialihkan ke Ambon atau Sorong tidak dipaksakan mendarat di Manokwari saat pandangan pilot terbatas.

Dengan dua penerbangan yang berhasil berlangsung normal pada Senin, layanan udara di Rendani mulai pulih dari gangguan dua hari terakhir. Pemantauan terhadap kondisi kabut asap, titik panas, dan perubahan cuaca tetap penting agar perjalanan udara dari dan menuju Manokwari dapat berlangsung aman.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Penerbangan di Rendani kembali normal di tengah?

Penerbangan di Rendani kembali normal di tengah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Penerbangan di Rendani kembali normal di tengah matter?

Penerbangan di Rendani kembali normal di tengah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.