KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga cabai di Purwokerto kembali melonjak

Published September 27, 2026 · Updated September 27, 2026 · By Elizabeth Moore - kabarlintas.com

Foto : Elizabeth Moore - kabarlintas.com

Pasokan Menipis, Harga Cabai di Purwokerto Kembali Naik

Kabarlintas.com – Pasar Manis di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kembali mencatat kenaikan harga pada sejumlah jenis cabai. Ketersediaan dari tingkat petani yang berkurang menjadi faktor utama, di tengah masa peremajaan tanaman dan kondisi kekeringan yang membuat tanaman lama lebih cepat mengering serta rusak.

Kenaikan ini paling terasa pada cabai rawit merah. Harga komoditas tersebut kini mencapai Rp80.000 per kilogram, setelah sekitar sepekan berada pada level Rp75.000 per kg. Perubahan harga di pasar turut memengaruhi pilihan belanja masyarakat dan pelaku usaha makanan yang menggunakan cabai sebagai salah satu bahan utama.

“Harga cabai rawit merah hari ini kembali naik menjadi Rp80.000 per kilogram setelah sempat bertahan di kisaran Rp75.000 per kg dalam satu pekan terakhir,” kata salah seorang pedagang sayuran, Anjar di Pasar Manis, Purwokerto, Minggu.

Rawit Hijau dan Cabai Merah Besar Turut Menguat

Selain rawit merah, cabai rawit hijau juga mengalami peningkatan harga. Semula diperdagangkan sekitar Rp60.000 per kilogram, kini harganya menjadi Rp70.000 per kg. Cabai merah besar bergerak naik dari Rp55.000 menjadi Rp60.000 per kilogram.

Berbeda dengan tiga jenis tersebut, cabai merah keriting belum menunjukkan perubahan harga dalam sepekan terakhir. Komoditas ini masih berada di kisaran Rp65.000 per kilogram. Harga tersebut sebelumnya telah naik dari Rp60.000 per kg pada pekan sebelumnya.

Perbedaan pergerakan harga antarjenis cabai menunjukkan bahwa kondisi pasokan tidak selalu sama untuk setiap komoditas. Namun, kenaikan yang terjadi pada beberapa jenis cabai tetap mencerminkan terbatasnya hasil panen yang masuk ke pasar.

“Kenaikan harga beberapa jenis cabai ini dipengaruhi oleh minimnya pasokan dari petani,” katanya.

Masa Regenerasi Tanaman Memengaruhi Ketersediaan

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Banyumas, Gatot Eko Purwadi, menyatakan kenaikan harga aneka cabai di daerah tersebut memang terjadi. Meski demikian, lonjakannya dinilai belum sebesar perubahan harga yang muncul di sejumlah wilayah lain.

Situasi ini berkaitan dengan pergantian masa tanam. Tanaman cabai lama telah memasuki fase akhir produksi, sementara tanaman yang baru belum menghasilkan panen. Akibatnya, pasokan yang beredar di pasar masih bertumpu pada sisa produksi tanaman sebelumnya.

“Aneka cabai yang dijual saat ini merupakan sisa panen dari tanaman lama karena tanaman baru belum produksi,” katanya.

Regenerasi tanaman merupakan bagian dari siklus budidaya cabai. Saat tanaman lama tidak lagi produktif dan tanaman pengganti belum siap dipanen, volume cabai yang tersedia dapat menyusut. Dalam kondisi seperti ini, harga di tingkat pasar mudah bergerak ketika kebutuhan tetap harus dipenuhi dari pasokan yang lebih terbatas.

Bagi pembeli, perkembangan harga ini membuat perencanaan belanja menjadi lebih penting, terutama untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kuliner. Perbedaan harga antarjenis cabai juga dapat menjadi pertimbangan ketika masyarakat menyesuaikan kebutuhan masakan, tanpa mengabaikan selera dan jenis cabai yang diperlukan.

Kekeringan Menambah Tekanan pada Produksi

Tekanan pasokan tidak hanya datang dari siklus peremajaan tanaman. Teguh Suprapto, petani yang aktif di Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Kabupaten Banjarnegara, menyampaikan bahwa petani di berbagai sentra cabai, termasuk Banjarnegara, sedang menjalankan proses regenerasi atau peremajaan tanaman.

Tanaman baru diperkirakan mulai dapat dipetik pada akhir Oktober 2026. Hingga waktu tersebut, pasokan masih mengandalkan tanaman lama yang produktivitasnya telah menurun. Kondisi ini membuka kemungkinan harga berbagai jenis cabai kembali meningkat apabila ketersediaan hasil panen belum pulih.

“Di sisi lain, faktor kekeringan menyebabkan tanaman cepat kering dan rusak. Hasil panen pun kurang maksimal karena air yang terbatas,” katanya.

Kekeringan memperberat tantangan pada masa transisi produksi. Keterbatasan air dapat mengurangi hasil panen, sementara tanaman yang sudah tua menjadi lebih rentan mengalami penurunan kualitas dan kerusakan. Kombinasi antara pasokan yang menipis dan hasil panen yang belum maksimal kemudian tercermin pada harga yang dibayar konsumen.

Pergerakan harga cabai di Purwokerto pada periode ini masih erat berkaitan dengan perkembangan panen di tingkat petani. Ketika tanaman baru mulai menghasilkan pada akhir Oktober 2026, ketersediaan komoditas diharapkan memiliki penopang tambahan. Namun sebelum fase itu tercapai, pasar masih bergantung pada hasil dari tanaman lama yang volumenya semakin terbatas.

Dengan harga rawit merah mencapai Rp80.000 per kilogram, rawit hijau Rp70.000 per kg, cabai merah keriting sekitar Rp65.000 per kg, serta cabai merah besar Rp60.000 per kg, masyarakat dan pedagang perlu mencermati perubahan pasokan dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi cuaca dan keberhasilan masa peremajaan tanaman akan tetap menjadi unsur penting bagi stabilitas harga cabai di wilayah tersebut.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga cabai di Purwokerto kembali melonjak?

Harga cabai di Purwokerto kembali melonjak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga cabai di Purwokerto kembali melonjak matter?

Harga cabai di Purwokerto kembali melonjak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.