KabarLintas
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

DEN: Indeks ketahanan energi nasional masuk kategori tahan

Published September 30, 2026 · Updated September 30, 2026 · By Thomas Davis - kabarlintas.com

Foto : Thomas Davis - kabarlintas.com

Ketahanan Energi Indonesia Dinilai Tetap Kuat di Tengah Gejolak Global

Kabarlintas.com – DEN - Indonesia masih berada dalam kategori “tahan” dalam penilaian ketahanan energi nasional, dengan skor indeks mencapai 7,13. Capaian ini menunjukkan kemampuan sistem energi nasional untuk tetap memenuhi kebutuhan masyarakat meski tekanan geopolitik global, khususnya dari kawasan Timur Tengah, terus menjadi perhatian.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menyampaikan penilaian tersebut saat menjadi narasumber sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Kepulauan Riau, pada Rabu.

“Indonesia termasuk negara yang tahan terhadap goncangan energi, ketika situasi geopolitik terjadi di Timur Tengah,” kata Kholid.

Posisi Indonesia juga disebut mendapat pengakuan dalam pemetaan lembaga keuangan JP Morgan. Dalam penilaian terhadap 52 negara, Indonesia ditempatkan di urutan kedua sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia saat situasi geopolitik internasional bergejolak.

Cadangan Batu Bara Menopang Keandalan Listrik

Kekuatan utama Indonesia terletak pada ketersediaan sumber daya energi yang besar. Batu bara menjadi salah satu komoditas yang masih memiliki peran penting dalam menjaga kontinuitas pasokan listrik domestik. Cadangan yang tersedia membantu sistem kelistrikan tetap andal ketika terjadi ketidakpastian pada pasar energi internasional.

Keandalan energi tidak hanya berkaitan dengan jumlah sumber daya yang dimiliki, tetapi juga kemampuan suatu negara mengolah, mendistribusikan, dan menyediakan energi secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, pasokan listrik yang stabil menjadi bagian penting dari aktivitas rumah tangga, layanan publik, usaha kecil, industri, hingga transportasi yang bergantung pada infrastruktur energi.

Namun, kondisi ketahanan energi nasional belum sepenuhnya bebas dari risiko. Sektor bahan bakar minyak masih menghadapi tantangan akibat ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Sekitar 30 persen kebutuhan BBM, termasuk 38 persen minyak mentah, masih berasal dari impor.

Ketergantungan tersebut membuat pasokan dalam negeri dapat lebih rentan apabila terjadi pembatasan pengiriman, gangguan perdagangan, atau kelangkaan minyak di pasar internasional. Risiko itu menjadi alasan DEN terus menekankan perlunya memperkuat kemandirian energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya domestik.

Swasembada Energi Menjadi Agenda Strategis

DEN mendorong pengembangan energi yang berangkat dari sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Arah kebijakan ini mencakup upaya mengolah potensi nasional untuk memenuhi kebutuhan energi sendiri, sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap.

Langkah tersebut memiliki arti penting bagi daya tahan ekonomi dan stabilitas kebutuhan masyarakat. Ketika porsi impor terlalu besar, perubahan harga global dan dinamika politik antarnegara dapat memberi dampak langsung terhadap biaya energi di dalam negeri. Penguatan sumber energi nasional dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga pasokan tetap tersedia dalam berbagai kondisi.

Untuk kesiapan stok, Kholid menyebut ketentuan wajib cadangan telah menetapkan daya tahan BBM selama 23 hari dan LPG selama 15 hari. Hingga saat ini, tidak ada gangguan terhadap persediaan tersebut.

“Sesuai mandatory, stok BBM kita bertahan 23 hari, dan LPG 15 hari. Sejauh ini tak ada gangguan stok, BBM masih aman untuk transportasi, demikian pula LPG bagi rumah tangga,” ucapnya.

Informasi ini penting bagi masyarakat karena BBM dan LPG memiliki fungsi yang berbeda tetapi sama-sama vital. BBM mendukung mobilitas kendaraan serta kegiatan distribusi barang, sementara LPG berhubungan langsung dengan kebutuhan memasak di rumah tangga. Ketersediaan di depot Pertamina dan integrated terminal juga disebut masih cukup untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Kelangkaan di SPBU dan Peralihan Konsumen

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah SPBU sempat mengalami keterbatasan pasokan BBM tertentu. Situasi itu tidak disebut sebagai persoalan kekurangan stok nasional, melainkan berkaitan dengan perubahan pola konsumsi setelah harga BBM nonsubsidi meningkat.

Kenaikan harga membuat sebagian pengguna BBM nonsubsidi beralih ke produk bersubsidi. Salah satu pergeseran yang terjadi adalah konsumen Pertamax yang memilih menggunakan Pertalite. Peralihan tersebut menyebabkan pemakaian BBM bersubsidi meningkat lebih cepat dibandingkan perkiraan kuota yang tersedia.

“Dampaknya, konsumsi BBM subsidi melonjak. Sementara kuota hanya cukup sampai akhir tahun, makanya terjadi kelangkaan di SPBU,” ungkap Kholid.

Lonjakan permintaan pada BBM bersubsidi dapat menimbulkan tekanan di tingkat penyaluran, terutama ketika konsumsi melebihi proyeksi awal. Karena itu, isu yang dihadapi tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah bahan bakar di fasilitas penyimpanan, tetapi juga kecukupan kuota dan distribusi produk yang menjadi pilihan utama konsumen.

DEN mendorong pemerintah dan DPR agar responsif dalam menambah kuota BBM bersubsidi. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kelangkaan di SPBU hingga akhir 2026, sekaligus menjaga akses masyarakat terhadap bahan bakar yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.

Ketahanan energi pada akhirnya bukan hanya soal posisi dalam indeks internasional. Bagi warga, ukurannya terlihat dari listrik yang tetap menyala, ketersediaan LPG untuk kebutuhan rumah tangga, serta kemudahan memperoleh BBM di SPBU. Penguatan sumber energi domestik, pengelolaan cadangan, dan ketepatan pengaturan kuota menjadi bagian yang saling berkaitan untuk menjaga kondisi tersebut tetap stabil.

Dengan sumber daya yang melimpah dan stok yang saat ini dinyatakan aman, Indonesia memiliki fondasi penting untuk menghadapi tekanan energi global. Tantangan berikutnya terletak pada pengurangan ketergantungan impor minyak serta pengelolaan konsumsi BBM bersubsidi agar pasokan dapat menjangkau masyarakat secara berkelanjutan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is DEN?

DEN is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does DEN matter?

DEN matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.